Minggu, 02 Maret 2008

Pemenang Lomba Menulis PBT ITB 2008

Pemenang Lomba Menulis Cerpen PBT ITB 2008
1. M. Yanuar Erdhian : "Republik Sunda Kelapa"
2. Ardha Pradikta : "Presiden Padang Ilalang"
3. Ega Wisnu Adiguna : "The Story Of Game"
Selanjutnya tidak sesuai peringkat
Ikra Amesta Wisnu Korsleting
Meifrinaldi Dekadensi
Gilang Fardanea Mistake
Luciana Tri H. Anatomi dan Fissiologi CInta
Hamdi W. R. Nasib si Koboi Kampus
Shelly Pristin Masbuk
Muhamad Iman Mahditama Dongeng Manusia Tentang Sang Penyelamat
Panji Adyatma DANU
Untuk lomba cerpen, ada 11 besar pemenang karena ada yang nilainya sama...

Pemenang Lomba Menulis Opini PBT ITB 2008
1. Agus Heri Hoerudin : "Geothermal dan Kemandirian Energi Indonesia"
2. Hendro Pratama : "Menabung Indonesia, Membangun Kemandirian Bangsa"
3. Aulia hamdani Feizal : "Technopreneurship : Solusi Kemandirian Bangsa"
Selanjutnya tidak sesuai peringkat
Indra Fajri Membangun Kemandirian Bangsa
Ery Adithyo Wibowo Mandiri Dengan Nasionalisme Substantif
Gunawan Bangsa Yang Mandiri
Fajar Wibowo Pilar Kemandirian Bangsa
Asrizal Luthfi Membangun Kemandirian Pangan, Menuju Kemandirian Bangsa
Rira Nurmaida Mandiri Bukanlah Pilihan
Alhadi Okta Triansyah Saatnya Produk Lokal Menjadi Tuan Rumah Di Negri Sendiri

Juara II Lomba Menulis Cerpeni PBT ITB 2008

PRESIDEN PADANG ILALANG
“… Tidak seorang pun aku ijinkan menggoyang Indonesiaku ini, akan aku pastikan garudanya
tetap mengangkasa di langit Indonesia, akan aku pastikan benderanya terus berkibar meski aku sendiri
yang harus mengereknya di puncak tertinggi Indonesia, dan akan aku pastikan setiap silanya mengakar
mendarah daging dalam setiap laku dan gerak bangsa ini. Itu adalah janjiku, dan aku tidak akan pernah
memaafkan manusia yang mencoba-coba mengancam kestabilan keamanan NEGARA KESATUAN
REPUBLIK INDONESIA” Salah seorang pejabat teras pemerintahan berbadan tegap menghentak-hentak
hati seluruh anggota rapat dengan pidato singkatnya yang terucap lantang dan penuh kecintaan yang
teramat dalam terhadap Bumi Pertiwi.
Ruangan sidang tidak lagi tenang seperti biasanya. Tidak ada satu pun yang tertidur atau
bermain laptop dalam rapat ini. Air conditioner yang terpasang di dinding-dinding ruangan itu tidak
dapat mendinginkan suasana yang sudah terlanjur memanas meskipun sudah disetel pada suhu yang
paling minimum. Di ruangan itu hadir juga beberapa pejabat tinggi non legislatif yang diundang untuk
ikut merumuskan keputusan penting itu. Ruangan juga penuh sesak oleh beberapa pejabat lainnya yang
sebenarnya tidak diundang tetapi memaksa untuk ikut dalam sidang tersebut. Di depan ruang sidang
tersebut duduk Ketua MPR Prof. Dr. Abu sufyan Maltatuliu yang terlihat kebingungan menghadapi
begitu banyak emosi yang tercampur dalam ruang sidang. Begitu banyak orang yang saling berebut
menyampaikan pendapat hingga aksi saling rebut mikrifon pun beberapa kali terjadi. Berkali-kali Abu
Sufyan menenangkan para peserta sidang namun sia-sia saja, suaranya tertelan oleh riuh suara ribuan
orang yang berkumpul disana.
“Interupsi Bapak Ketua!! saya sangat tidak setuju dengan keputusan pertama tadi, tidak bisakah
hal itu dipertimbangkan sekali lagi? Bukankah Indonesia bisa mengangkat harga dirinya di mata dunia
berkat seluruh usaha dan kerja kerasnya juga?” Ketua Fraksi Utusan Daerah Dr. Martinus Kombe asal
papua angkat suara”
“Maaf Saudara Martinus, harusnya anda tahu, bahwa yang dilakukannya itu adalah kejahatan
sekaligus penghinaan tertinggi bagi Indonesia, tidak ada kompromi lagi bagi kejahatan semacam itu. Apa
anda mentolerir tindakan semacam itu? Atau anda jangan-jangan memang berkomplot dengannya,
hah?” Salah seorang anggota DPR tiba-tiba langsung menimpali tanpa ijin. Nampak jelas dari intonasinya
yang tinggi, bahwa dia sangat marah dan kecewa dengan pernyataan Dr. Martinus Kombe.
“Tenang, tenang semuanya!! Saya tahu kalau kita semua capek, sudah dua puluh jam hari ini
kita di ruang sidang, tapi tolong logika tetap di atas emosi. Dan untuk Pak Martinus, sepertinya anda
masih belum menyadari bahwa yang dia lakukan itu sudah sangat keterlaluan dan tidak bisa dibiarkan.
Undang-undang manapun akan menindak tegas setiap perbuatan yang dapat mengancam keselamatan
negaranya. Dan sekali lagi keputusan pertama sidang ini tidak bisa diganggu gugat. Sekarang ini kita
sedang mencari hukuman apa yang pantas dijatuhkan kepadanya agar tidak ada lagi orang yang berani
meniru apa yang sudah dilakukannya saat ini.”
Ruangan sidang hening sesaat, Dr. Martinus Kombe pun diam seribu bahasa. Bukannya dia tidak
tahu harus berbicara apa, namun dia takut dianggap antek atau berkomplot dan menerima perlakuan
yang sama dengan orang itu. Beberapa anggota rapat nampak berbisik-bisik satu sama lain sambil
sesekali saling mengedarkan pandangannya dengan penuh rasa curiga. Suasana yang terbangun saat itu
di ruang sidang benar-benar tidak nyaman, hingga tidak ada seorang pun yang mau bersuara.
“Interupsi Pak Ketua, saya rasa saya tahu hukuman apa yang pantas…” tiba-tiba pejabat
berbadan tegap itu sekali lagi angkat bicara.
***
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh belas lewat empat puluh lima, masih lima belas menit
dari waktu yang telah ditetapkan. Angin yang berhembus di Lapangan Monas terasa sangat lambat,
seakan enggan meninggalkan tempat yang menjadi saksi sejarah rapat akbar rakyat Indonesia pertama
kalinya pada masa awal kemerdekaan. Saat itu Lapangan ini masih bernama Lapangan Ikada, dan
Soekarno masih disanjung-sanjung. Kini sudah genap seratus tahun berlalu semenjak kemerdekaan
Indonesia, dan soekarno sudah tidak lagi disanjung-sanjung. Bukan lagi soekarno yang menjadi
pahlawan di hati rakyat Indonesia, karena kini jamannya telah berbeda. Setiap jaman memiliki
pahlawannya masing-masing.
Berbeda dengan saat-saat awal kemerdekaan di lapangan Ikada, sore itu lapangan Monas terasa
begitu dingin dan mencekam meskipun ratusan ribu rakyat Indonesia telah kembali berkumpul dalam
satu barisan yang rapat. Riuh dan ramainya rakyat jelata yang memadati selasar monas tidak dapat
menghapuskan suasana duka serta luka yang menyayat hati simpatisan Sang Presiden, sementara
sebagian besar lainnya memuntahkan sumpah serapah dan umpatan serta makian atas mantan orang
nomor satu di Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut.
Sang Presiden berjalan memasuki selasar Monumen Nasional dengan mata yang sembab dan
langkah yang tidak lagi tegap. Sudah beberapa hari ini tidurnya tidak teratur, kadang tiga jam, dua jam
bahkan pernah tidak tidur seharian. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa masalah yang
ditimbulkan akibat tindakannya itu bisa menjadi sedemikian berat. Kepalanya terasa pusing, dan
matanya yang panas terus meminta didinginkan lewat buaian kasur. Tapi tidak mungkin baginya untuk
beristirahat, Sang Presiden sudah tidak lagi memiliki kekuasaan, bahkan ia tidak lagi memiliki kuasa atas
dirinya sendiri.
Di sudut podium terlihat menteri pertahanan dan keamanan Marsekal Andiro Setyoatmodjo
atau yang biasa ia panggil dengan nama kecil ‘Atmo’ berdiri memandangnya dengan mata yang nanar.
Pandangan keduanya menyatu, dan kalau Sang Presiden tidak berada di depan umum seperti ini, tentu
ia sudah berlari menghambur kearahnya. Sang presiden bergetar hebat saat tahu Atmo ada disana, ia
menghampirinya dengan wajah setengah tersenyum. Guratan-guratan keriput di wajahnya nampak jelas
dibawah terangnya matahari sore yang berwarna kemerahan. Matanya kembali berkilat-kilat, ia tahu
bahwa Atmo adalah harapan terakhirnya. Ia tahu kalau Atmo tentu mengerti akan tindakannya. Ia kenal
betul siapa sosok Andiro Setyoatmodjo, ia adalah seorang marsekal muda yang terbuka dengan
perubahan, berpandangan jauh ke depan, pemaaf dan penyabar, namun juga sekaligus determinatif.
Atmo adalah satu dari sedikit orang yang mampu memahami jalan pemikirannya.
“Mo, Kamu tahu aku yang benar !! Negeri ini butuh visi, kita harus dobrak semua belenggunya,
kalau pancasila hanya jadi belenggu maka kita dobrak juga sekalian. Aku tahu Mo, suatu saat negeri ini
bisa menjadi negara adikuasa, aku tahu itu Mo…” Sang Presiden berharap bahwa Atmo masih mau
mendukungnya. Walaupun itu sudah agak terlambat, namun Sang Presiden tidak putus asa.
“Tidak Bang, Abang salah! Indonesia adalah pancasila. Tidak ada satupun yang boleh
memisahkan keduanya. Indonesia tanpa pancasila hanyalah raga tak bernyawa. Dan aku tidak rela
nusantaraku kehilangan nyawanya” Atmo dapat melihat raut kecewa di wajah sahabatnya itu, namun ia
yakin seratus persen dengan apa yang dikatakannya. Tidak ada yang boleh menurunkan pancasila dari
tahtanya, tidak juga Sang Presiden itu sendiri.
“Mo, bukan pancasila yang kita butuhkan!! Pancasila itu ideologi banci. Indonesia negeri yang
besar, negeri yang mumpuni. Tidakkah kamu lihat apa yang telah kita lakukan dalam delapan tahun
terakhir? Kita bangun angkatan laut dan udara yang tanguh sehingga negeri ini berdaulat, Kita tiru
keberanian Venezuela menasionalisasi perusahaan kapitalis asing, Kita gratiskan kesehatan dan
pendidikan, Kita adopsi kebijakan Cina menggantung para koruptor, Kita tantang Amerika seperti Kuba,
Kita tolak semua pinjaman luar negeri, Kita juga deklarasikan pada dunia bahwa Indonesia tidak
berhutang satu sen pun pada siapapun. Kita angkat harga diri Indonesia. Kita telah menang menantang
kapitalisme. Dan kamu pikir sistem apa yang kita terapkan dalam delapan tahun ini?! Bukan pancasila,
itu sosialis Mo!! Dari sana Kita dapat keberanian itu. Di kepalaku ini sudah ada cap Seorang-Sosialis-
Visioner-yang-bertekad-memberi-kejayaan-bagi-Indonesia, bukan kapitalis atau pancasilais” Sang
Presiden setengah berbisik di telinga Atmo dengan penuh semangat yang berapi-api layaknya Indonesia
baru merdeka.
“Ya, dan Abang lihat sendiri akibatnya bagi negeri kita saat ini: embargo militer, embargo
ekonomi, dianggap teroris lah, anti-demokrasi lah, gak karu-karuan negeri kita sekarang! Apalagi Abang
deklarasikan sosialis menggantikan pancasila. Tidak heran kini Abang dianggap sebagai pemberontak
gila! Rakyat kita sudah cukup menderita…”
“DIAM MO, DIAM!! Itu memang harga yang harus dibayar untuk membeli kembali harga diri
kita. Lagipula kamu tahu apa tentang penderitaan? Akulah anak yang dibesarkan dalam penderitaan,
bukan kamu! Akulah anak yang kelaparan selama 16 tahun di desa terbelakang tanpa listrik, bukan
kamu! Akulah anak yang telah dikecewakan oleh negeri ini, bukan kamu! Tapi aku masih cinta negeri ini.
Aku memaafkan negeri ini… Hingga pada suatu senja di bukit depan gubuk reyot orang tuaku, di sebuah
padang ilalang, aku berjanji bahwa aku akan membawa visi bagi negeri ini. Akan aku wujudkan NEGARA
ADIDAYA INDONESIA RAYA!!” Kini suara Sang Presiden setengah bergema di seantero lapangan monas
yang sedang khidmat-khidmatnya menunggu matahari terbenam.
“Abang sudah kelewat gila, bukan cinta yang Abang bawa, tapi petaka. Biarlah negeri ini dalam
ketentraman. Kita bangsa Indonesia tidak perlu kejayaan, cukup kesejahteraan dan kemakmuran“ Atmo
masih bisa mengendalikan dirinya, ia menyampaikan kata perkatanya dengan sangat tenang dan jelas.
“Lemah kamu! Sia-sia aku membagi mimpiku denganmu …”
“Aku kagum dengan mimpi-mimpimu Bang, tapi mengganti ideologi? Itu gila!! Sama saja Abang
mencabut nyawa Indonesia”
“Aku tahu yang terbaik bagi Indonesia Mo. Aku ini orang Indonesia, aku bangga menjadi orang
Indonesia , aku CINTA Indonesia.”
“Sudah Bang, cukup! Biarlah rakyat yang menentukan. Aku sudah tidak mau tahu lagi tentang
ide gila Abang itu.” Atmo tidak sanggup lagi berdebat dengan sahabatnya, air mata menetes perlahan
dari sudut matanya seraya ia berbalik meninggalkan sahabatnya sendiri di tengah keramaian
“ATMO!! Dasar pengkhianat!!! Ingat Mo, suatu saat kamu akan mengakui kalau aku yang
benar… Ingat itu!“ Sang Presiden berteriak lantang setengah marah yang kemudian langsung disambut
gemuruh cacian dan makian dari rakyat yang juga marah besar pada Sang Presiden.
Atmo terus berjalan menjauhi Sang Presiden dan keramaian yang ada di sekitarnya menuju
masjid Istiqlal di seberang jalan. Jalanan begitu lenggang dan sepi, tidak nampak satu kendaraan pun
yang berderu menembus jalanan di sore itu. Nampak semua orang telah meninggalkan aktivitasnya
masing-masing untuk menyaksikan kejadian paling bersejarah di tahun 2045 ini. Rasanya belum lama
Atmo tertawa bersama sahabatnya di teras rumah sambil membicarakan masa depan negeri ini.
Delapan tahun yang lalu pada suatu senja di waktu yang sama dengan saat ini, pernah Sang
Presiden berkunjung ke rumahnya di Bandung. Teras mungil berukuran 3m x 2.5m dengan dua kursi
rotan mungil, sebuah meja duduk dan dua buah cangkir kopi menjadi saksi awal pembentukan Indonesia
baru yang direncanakan kedua calon pahlawan yang berjiwa muda itu. Sinar merah matahari sore masuk
diam-diam lewat celah pohon cemara di trotoar pekarangan depan rumah. Pohon-pohon cemara itu
berbaris rapi dengan tinggi yang hampir sama dan masing-masing berjarak satu atau dua hasta satu
sama lain. Tidak ada pagar besi di pekarangan rumah Atmo, hanya tanaman perdu setinggi pinggang
orang dewasa yang membatasi wilayah rumahnya dengan bahu jalan. Maklum, tidak ada yang berani
berbuat macam-macam apalagi mencuri di komplek dinas hunian para perwira senior TNI AU itu. Disisi
selatan tembok rumah Atmo, terlihat beberapa tanaman bonsai tua yang sudah tidak lagi nge-trend
masih meliuk-liukan batangnya di dalam pot-pot keramik cina dengan motif naga dan barong. Sembilan
buah bonsai itu dipamerkan di susunan batu alam berundak yang dialiri air sehingga tampak warna
kemerahan lembayung senja memantul dari bebatuan pipih itu. Bonsai-bonsai kecil dengan angkuhnya
memancarkan keindahan yang luar biasa lewat strukturnya yang unik, seakan memanggil setiap manusia
yang melihatnya untuk memiliki setiap lekuk indah batangnya. Tidak ada satu pun bunga warna-warni
yang tampak menghiasi hamparan rumput jepang di halaman rumahnya. Namun hal tersebut tidak
mengurangi satu pun keindahan dari pekarangan rumah marsekal muda itu.
Disana Sang Presiden mengungkapkan rencana-rencana kebijakan yang akan diambilnya dalam
lima tahun ke depan. Segera setelah ia dilantik menjadi presiden. Saat itu dia hanyalah seorang kandidat
calon presiden yang tidak terlalu diunggulkan dan Atmo pun belum menjadi seorang menteri, hanya
seorang marsekal muda yang memiliki semangat perubahan. Darinya lah Atmo belajar banyak tentang
hakikat kepemimpinan, dan darinya juga ia mendapatkan keberanian untuk merealisasikan
idealismenya. Maka ketika Sang Presiden menceritakan impiannya atas Indonesia dan apa yang akan
dilakukannya ketika menjadi presiden nanti, Atmo langsung mendukungnya.
“Benar Mo, kamu siap dukung aku?“
“Dengan segenap jiwa raga Bang” Atmo memang menghormati Sang Presiden dengan
memanggilnya ‘Abang’ walaupun umur mereka hanya terpaut satu bulan kurang lima hari. Bahkan
zodiak mereka pun sama, meskipun keduanya percaya bahwa masalah tidak akan selesai dengan
membaca ramalan asmara di majalah anak umur belasan. Bagi mereka, zodiak hanyalah suatu
pembenaran bagi para kaum fatalis yang malas berusaha.
“Kalau aku jadi presiden Mo, aku mau kamu yang menjadi menteri pertahananku, aku butuh
nasehat-nasehat bijakmu Mo”
“Alah, aku tidak sebijak itu kok Bang, lagian kalo cuma butuh nasehat kenapa tidak minta
paranormal saja jadi menteri Abang? Hehe..” Atmo tertawa renyah sambil menyeruput kopi manisnya.
“Yah, tidak cuma itu toh Mo, aku juga butuh perlindungan darimu, kamu kan marsekal, pasti
punya banyak anak buah. Anak buahmu kan badannya gede-gede kayak bodyguard, yakin deh tidak
bakalan ada yang berani ganggu aku. Hahaha..”
“Ah, ngawur!!” Keduanya kemudian terkekeh-kekeh dan terus mengobrol hingga matahari
terbenam di sebuah atap rumah tingkat dua bergaya minimalis, atau paling tidak yang terlihat demikian.
Karena setelah melewati atap rumah itu, matahari tidak lagi tampak dimata kedua lelaki empat puluhan
itu, yang tersisa hanya lembayung kemerahan yang perlahan-lahan tertutupi oleh gelapnya malam.
Setelah adzan magrib berkumandang keduanya menuju masjid terdekat. Mereka sholat
berjamaah disana, dan dilanjutkan hingga sholat isya selesai. Selama menunggu isya di masjid, keduanya
melakukan pembinaan kecil-kecilan kepada tujuh remaja masjid yang berumur dua puluhan dengan
menceritakan kisah kaderisasi ideal yang dilakukan oleh sosok Hasan Al Bana, tokoh pergerakan yang
dikagumi oleh kedua lelaki paruh baya itu.
***
Waktu kini sudah menunjukkan pukul delapan belas tepat, ini adalah waktunya. Di sudut teras
masjid Istiqlal Atmo tersungkur dalam sujud memohon pengampunan sekaligus mengucap rasa syukur.
Air matanya mengalir tanpa henti dari matanya yang sudah sembab. Ia menangis sesenggukan. Sulit
baginya mengendalikan nafasnya saat mengingat kembali wajah sahabatnya itu. Bagaimana dia begitu
mencintai negeri ini, bagaimana dia bercerita tentang mimpi-mimpinya, dan juga setiap kelakar serta
canda yang sering dilakukannya saat menyeruput kopi manis sambil berdiskusi berdua. Dalam lima
tahun pertama dia mendukung sepenuh hati keputusan-keputusan radikal sahabatnya dengan menjadi
Menteri Pertahanan dan Keamanan yang menjaga kedaulatan Negara Indonesia dengan sepenuh hati.
Dan pada saat Sang Presiden terpilih lagi di lima tahun kedua ia masih setia menjadi menteri di kabinet
Sang Presiden. Atmo berjuang bersama Sang Presiden menghalau siapa saja yang mencoba mengganggu
Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun yang paling membuat Atmo perih adalah kenyataan bahwa
saat ini adalah sahabatnya itu sendiri yang ingin mengganti ideologi pancasila dengan yang lain. Pada
tahap ini dia harus memilih antara sahabat atau negerinya. Dan Atmo tahu bahwa ia telah membuat
keputusan yang tepat dengan membela negerinya, Indonesia Raya tercinta. Maka setelah MPR
menyatakan Sang Presiden bersalah dan dinyatakan sebagai pemberontak yang hendak berbuat makar,
dia sendiri lah yang dengan mengatasnamakan kestabilan keamanan NKRI telah mengusulkan hukuman
mati secara terbuka di depan rakyat banyak agar tidak ada lagi seorang pun yang berani menggoyang
pancasila. Itu adalah falsafah hidup Indonesia, acuan negara yang sudah ditancapkan oleh para founding
father Indonesia selama seratus tahun lamanya. Dan selama Menteri Pertahanan dan Keamanan
Marsekal Andiro Setyoatmodjo masih hidup, tak akan seorang pun dibiarkan dengan tenang mengobrakabrik
Indonesia.
Kini gelap telah menggantikan merah, waktu eksekusi yang ditetapkan telah lewat dua menit.
Matahari pun telah membenamkan wajahnya melalui sela-sela gedung pencakar langit yang berdiri
kokoh. Sayup-sayup suara burung menghilang berganti teriakan lirih seorang manusia keblinger yang
mendamba kejayaan dan kemakmuran. Seorang yang berani meneriakan visinya dan mengacungkannya
tinggi-tinggi di tengah alam Indonesia yang masih bermental kerdil. Teriakan itu berasal dari
tenggorokan seorang manusia yang sudah hampir habis jatah hidupnya tanpa bisa mewujudkan
mimpinya. Itulah teriakan putus asa sekaligus penuh harap seorang anak manusia.
“JAYALAH INDONESIAKU… !!!” dari kejauhan terdengar pekikan Sang Presiden
membahana memenuhi seluruh lapangan Monas. Semangatnya bahkan meluap keluar membanjiri
seluruh kampung-kampung pinggiran kota Jakarta kemudian hingga ke seluruh pelosok terpencil negeri
Indonesia Raya ini. Seluruh orang yang menyaksikan detik-detik itu terkesiap dalam satu sapuan. Hilang
seluruh ingatan tentang tragedi PKI pada tahun 1966, hilang seluruh ingatan tentang kekacauan
reformasi pada tahun 1998 dan hilang seluruh ingatan tentang krisis energi dan ekonomi besar-besaran
yang menyebabkan 7 tahun Indonesia mengalami vakum kekuasaan pada tahun 2025. Belum pernah
lagi rakyat Indonesia mendengar pekikan pengobar semangat seperti ini selama seratus tahun terakhir
sejak Bung Tomo mengobarkan Surabaya dengan api semangat yang tak pernah padam dalam hati arekarek
suroboyo pada hari bergugurannya para pahlawan. Sesungguhnya rakyat Indonesia masih sangat
rindu untuk dikobarkan semangatnya. Dan pada detik itu angin masih enggan untuk berhembus.
“DORR..DORR..”
Terdengar sepuluh suara tembakan dikeluarkan dari sepuluh senapan laras panjang pada waktu
yang hampir bersamaan. Dan pekikan itu akhirnya padam sebelum waktunya.
Rakyat kecil tidak pernah mengerti apa itu ideologi, kenapa harus pancasila, syariat, kapitalis
atau sosialis? Namun yang jelas, selama besok masih bisa tersedia sepotong tempe dan sebakul nasi di
meja makan, ideologi apapun tidak jadi masalah. Sang Presiden macam apapun asalkan mau memberi
makan rakyatnya adalah presiden yang baik menurut mereka. Entah siapa Sang Presiden itu, bisa aku,
kamu, atau anak lain yang tumbuh dengan membawa visi.

Juara I Lomba Menulis Opini PBT ITB 2008

Geothermal dan Kemandirian Energi Indonesia

Oleh : Agus Heri Hoerudin

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan tentang terbatasnya cadangan energi yang ada di Indonesia. Menurutnya, bila tidak ada penemuan baru, cadangan minyak di Indonesia hanya cukup sampai 18 tahun, sedangkan gas 60 tahun, dan batu bara 150 tahun. Oleh karena itu, presiden meminta supaya masyarakat hemat energi.

(http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2005/0905/28/0103.htm)

Bagaikan suatu nasib buruk, berbagai krisis melanda negeri kita. Setelah menglami krisis moneter tahun 1998 lalu kini Indonesia menderita krisis energi. Cadangan minyak di Indonesia tidak lama lagi akan habis, begitupun dengan energi fosil yang lainnya. Hal ini tentu memaksa bangsa Indonesia untuk beralih ke bentuk energi yang lainnya. Isu kelangkaan energi ini kini menjadi topik hangat dibicarakan di negeri yang konon katanya kaya akan sumber daya alam ini. Bahan bakar yang semakin sulit sulit diperoleh yang ditandai dengan panjangnya antrian-antrian pembelian minyak tanah maupun bensin, tarif listrik yang semakin hari semakin mahal, cadangan minyak Indonesia yang berkurang serta harga minyak dunia yang tidak stabil menandakan fenomena terbatasnya energi sekarang ini. Ini tentunya tidak hanya terjadi di negara kita tapi melanda hampir di seluruh negara di dunia.

Pemerintah tidak tinggal diam menyikapi fenomena ini. Berbagai cara telah ditempuh untuk mengembalikan kemandirian energi Indonesia. Mulai dari rencana pembangunan PLTN, pemanfaatan renewable recources sebagai biofuel, dsb. Usaha terkini yang dilakukan pemerintah adalah konversi minyak tanah ke LPG yang sudah diberlakukan tahun 2007 lalu. Hal ini dengan pertimbangan cadangan gas yang lebih banyak daripada minyak.




Sebetulnya Indonesia masih memiliki banyak potensi energi yang bisa di manfaatkan, beruntunglah kita, yang dikaruniai Tuhan kekayaan alam yang melimpah ruah. Sehingga sebetulnya tidak perlu ada alasan Indonesia mengalami kelangkaan energi, toh masih banyak yang bisa diolah di alam Indonesia. Berikut ini data potensi energi nasional pada tahun 2004. Angka ini tidak jauh berubah sampai tahun ini mengingat pemanfaatan akan cadangan tersebut yang masih sangat kurang.





Sumber : http://rovicky.wordpress.com

Dari tabel di atas terlihat jelas bahwa sebetulnya masih banyak sumber daya alam Indonesia yang berpotensi menjadi sumber energi masa depan. Namun yang jadi pertanyaan sekarang adalah seberapa serius pemerintah mengusahakan energi alternatif tersebut sehingga bisa mewujudkan kemandirian energi nasional. Karena energi adalah hal yang krusial, maka keseriusan dalam pengadaannya amat dibutuhkan. Setiap orang tidak bisa hidup tanpa energi, baik dalam bentuk listrik maupun yang lainnya karena sekali lagi energi adalah kebutuhan primer manusia.

Indonesia telah memanfaatkan tanaman jarak pagar sebagai biodisel, namun masih menemukan beberapa kekurangan. Indonesia pun tengah merintis pembangunan PLTN walaupun pro-kontra terus bergulir. Selain itu banyak lagi usaha untuk mewujudkan kemandirian energi negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-5 dunia ini. Kedepannya akan dibuat energi yang bersumber dari tenaga surya, arus laut, ombak pantai, dan lainnya. ''Di Inggris yang ombaknya lebih kecil menghasilkan 500 KWh, kita bisa membuat 10 ribu KWh dari ombak pantai selatan,'' ungkap Direktur Teknologi Pengembangan Sumber Daya Energi Badan Penelitian dan Pengkajian Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto. Hal ini mengingat Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang kedua di dunia dan tentunya ini bisa menjadi potensi yang sangat besar. Hingga sekarang teknologi ini belum dimanfaatkan dengan maksimal. Ombak pantai selatan di Indonesia cukup besar dan ini merupakan potensi yang bagus untuk dikembangkan.

Namun dari semua potensi tersebut sumber energi yang paling memungkinkan digunakan di Indonesia adalah panas bumi (Geothermal). Energi panas bumi merupakan jalan yang paling prospektif karena cadangannya sangat besar di Indonesia serta tidak menimbulkan masalah lingkungan. Hal ini sejalan dengan kondisi saat ini yang tengah hangat-hangatnya isu pemanasan global akibat berbagai proses manusia yang mencemari lingkungan. Namun Geothermal hadir sebagai solusi kedua permasalahan di atas, pemenuhan akan energi yang ramah lingkungan.

Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar. Beruntunglah Indonesia karena dilewati sekitar 20% panjang dari sabuk api atau sering disebut sebagai "ring of fire" ini. Jalur ini merupakan jalur dimana gunung api banyak dijumpai. Dari gunung-gunung api inilah sumber panas diperoleh. Sehingga tidaklah heran jika dari 50.000 MW potensi panas bumi dunia, 27.000 MW nya dimiliki Indonesia atau sekitar 40 % potensi total di bumi ini. Akibatnya negara kita dinobatkan sebagai negara dengan potensi panas bumi terbesar di dunia. Berikut ini adalah data potensi panas bumi di beberapa daerah di Indonesia :


Sumber: http://rovicky.wordpres.com

Dari tabel di atas terlihat bahwa potensi ini tersebar hampir di seluruh pulau di Indonesia, kecuali Kalimantan. Potensi terbesar ada di Jawa Barat, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, Bali dan Nusa Tenggara, ini lebih menguntungkan karena konsumen listrik terkonsentrasi di pulau Jawa. “Negara kita memang kaya akan panas bumi, tapi ironisnya, hanya 3% saja atau sekitar 800 MW saja yang berhasil Indonesia manfaatkan sebagai energi ” tutur salah satu Staff Humas PT Indonesia Power UBP Kamojang saat menerima kunjungan dari HIMATEK ITB Desember 2007 lalu. Sungguh sangat menyedihkan, namun semua itu bukan untuk kita ratapi melainkan untuk kita carikan solusinya. Melihat bahwa kecilnya tingkat pemanfaatan geotremal di Indonesia, jelas sekali ini sebuah peluang yang sangat besar dan perlu dimanfaatkan secara maksimal. Dan kalau diperhatikan, semua potensi geothermal ini adalah potensi geothermal high entalphy yang tentunya sangat baik untuk pembangkit listrik. Menurut Triharyo Susilo, Dirut PT Rekayasa Industri, Indonesia memiliki kualitas geothermal yang baik, terutama Provinsi Jawa Barat yang memiliki 25 persen potensi panas bumi di seluruh Indonesia ini. Mengenai kualitas, jelas tidak diragukan lagi, karena Indonesia merupakan geothermal dengan kulitas terbaik di seluruh dunia. Sungguh sangat menakjubkan. Maka sudah selayaknya pengembangan panas bumi dunia berkiblat ke Indonesia.

Seharusnya kita malu, negara lain sudah jauh lebih banyak memanfaatkan panas bumi di daerahnya walaupun cadangannya jauh di bawah negara kita. Tengoklah Filipina, tetangga kita ini yang sudah menggunakan panas bumi secara optimal sampai sekitar 25% dari potensi panas bumi yang dimiliki negeri tersebut. Di luar Indonesia, saat ini paling tidak tercatat 20 negara yang ikut serta dalam eksplorasi panas bumi dan aktif mengembangan sumber daya tersebut. Secara berturut-turut sesuai dengan besarnya kapasitas terpasang adalah: Amerika Serikat, Filipina, Meksiko, Italia, Jepang, New Zealand, Iceland, El Salvador, Costa Rica, Nikaragua, Kenya, Guatemala, Cina, Rusia, Turki, Portugal, Ethiopia, Guadelope, Thailand, dan Australia (Pertamina Geothermal Development Resources & utilization, Geothermal Hulu Pertamina, Juni 2003).

Dari buku Data dan Informasi Minyak dan Gas Bumi 2001 (Ditjen Migas, Departemen ESDM, 2001) terlihat seberapa besar pemakaian energi primer menurut jenisnya sampai tahun 2000. Minyak bumi tentu saja masih tertinggi (58,7%), menyusul gas bumi (25,6%). Berikutnya, batubara (10,4%), tenaga air (3,9%), dan terakhir panas bumi (1,4%). Kenapa negeri tetangga itu bisa begitu sukses, sedangkan kita tidak bisa? Karena memang Filipina tidak punya banyak minyak bumi, sehingga fokus ke panas bumi. Sedangkan kita masih tertumpu pada minyak dan gas bumi.

Geothermal tidak dapat dipungkiri lagi memiliki banyak keunggulan dibandingkan sumber energi lainnya. Walaupun begitu, dalam buku Business Profile Pertamina Geothermal Indonesia (Pertamina, 2003) disebutkan juga kelemahan jenis energi ini yang tidak bisa diekspor (unexportable resources). Namun untuk kondisi Indonesia sekarang ini, justru lebih tepat digunakan untuk mewujudkan kemadirian energi negara kita dari pada harus diekspor. Kelebihan-kelebihan penggunaan geothermal dibandingkan sumber energi lainnya antara lain :

Tidak akan habis

Geothermal merupakan SDA terbarukan. Secara teoritis, potensi dan cadangan panas bumi tidak akan pernah habis selama inti bumi masih panas dan air di bumi masih ada. Yang habis adalah lubang bor, peralatan lainnya baik karena rusak, tersumbat dan lain-lain, sehingga harus diperbaiki atau mungkin membor lubang baru yang lebih murah. Potensi geothermal ini dihitung untuk jangka 30 tahun. Potensi ini diestimasi berdasarkan usia sumur geothermal dan usia mesin pembangkit yg rata-rata akan bertahan selama 20-30 tahun, Sebagai gambaran lapangan geothermal Kamojang sudah berusia 27 tahun dan masih memilki kapasitas 93% dari yg terpasang.

Potensi Kandungan dan Kapasitas yang Sangat Besar

oil%20vs%20geothermalMengapa Geothermal memiliki kapasitas sangat besar? Mungkin karena jalur suplainya langsung dari dalam tanah (dari sumur langsung ke turbin), jadi tidak banyak tangan, apalagi kepentingan ini kepentingan itu. Hal ini terbukti dari PLTP pertama di Kamojang yg sudah berumur 27 tahun namun tetap saja masih tinggi daya kemampuannya sepanjang beroperasi. Dan tidak ada gangguan di suplai energi primernya.

Sumber : http://rivicky.wordpress.com

Kalau saja untuk membangkitkan listrik 1 KWh membutuhkan 0.28 liter BBM, maka:

ü 1MWh membutuhkan 280 liter atau kira-kira 2 barrel

ü Kalau potensi geothermal di Indonesia itu 27000 MW maka satu jam setara 7,560,000 liter atau 47,547 barrel BBM

ü Dalam satu hari potensi geothermal adalah setara 181,440,000 liter atau 1,141,132 barrel BBM

ü Dalam satu bulan sudah bernilai 544,320,000 liter BBM atau 34,233,962 barel

ü Dalam satu tahun bisa menghemat 65,318,400,000 liter sekitar 410,807,544 barrel BBM

ü Maka, dalam 30 tahun nilainya akan menjadi setara 1,451,520,000,000 liter BBM atau 12,324,226,320 barrel-e (~ 12 milyar barrel ekivalen !!!).

Sungguh angka yang sangat fantastis. Tapi sekali lagi, semua itu diperoleh jika seluruh potensi panas bumi Indonesia dimanfaatkan secara optimal. Sebagai informasi, lapangan Minas dan Duri yang terbesar di Asia saja memiliki total cadangan sekitar 4 Milyar Barrel, maka potensi panas bumi ini setara dengan tiga kali lipat cadangan minyak di lapangan Minas dan Duri. Subhanallah....

Biaya operasi lebih rendah

Biaya operasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) lebih rendah dibandingkan dengan biaya operasi pembangkit listrik yang lain meskipun belum semurah pemanfaatan batu bara sebagai sumber energi. Secara ekonomis, rendahnya biaya operasi PLTP menjadi alasan pokok pengoperasian PLTP di berbagai negara, sehingga PLTP lebih diandalkan daripada pembangkit listrik yang lain (Encyclopedia Americana, 1996). Juga dibandingkan dengan tenaga listrik yang energi primernya menggunakan batubara. Tapi murahnya biaya operasional PLTP hampir sama dengan biaya pengoperasian pembangkit tenaga listrik yang energi primernya menggunakan bahan hidroelektrik. Walaupun untuk pengembangannya sendiri termasuk mahal (High Capital Investment). Hal ini antara lain karena harus membangun infrastruktur di lokasi sumber panas bumi itu berada, yang kebanyakan berlokasi di tempat terpencil. Panas bumi juga termasuk high risk & high tecknology.

Langsung dipakai

Energi geothermal merupakan energi yang dihasilkan oleh panasnya perut bumi. Panas atau suhu tinggi ini yang dimanfaatkan sebagai sumber energi. Namun jika panas saja tentu tidak dapat dimanfaatkan secara optimum. Dengan demikian perlu adanya transformasi energi ke dalam bentuk energi lain sehingga siap pakai. Saat ini teknologi pemanfataan geothermal untuk dipakai sebagai pemanas jelas sudah ada, namun karena Indonesia termasuk daerah tropis kebutuhan panas ini tidak banyak diperlukan. Justru kebutuhan pendingin yg diperlukan dan yang diperlukan di Indonesia ini terutama adalah untuk penerangan dan transportasi.

Penerangan di Indonesia hampir 100% mempergunakan listrik. Listrik ini diperoleh dengan berbagai cara, semua itu yang dihasilkan dari tenaga air, tapi tidak sedikit pula yang menggunakan steam (uap). Berbagai bentuk energi dirubah untuk membangkitkan steam agar bisa menghasilkan listrik (PLTN, PLTD, PLT batubara, dll), sehingga perlu proses yang lebih rumit. Geothermal adalah energi karunia Tuhan yang siap pakai, hanya dengan treatment yang mudah uap panas bumi siap dipakai untuk memutar turbin untuk bisa dirubah menjadi listrik. Dengan potensi Indonesia yang melimpah ruah ini, sudah sepantasnya panas bumi mendapatkan prioritas utama.

Aman dari Ancaman "Penjarahan"

Dari sebuah blog yang banyak mengulas tentang geothermal http://rovicky.wordpress.com menguraikan keuntungan lain dari pemanfaatan geotermal yakni bebas dari “penjarahan energi”. Kebutuhan energi dunia akan meningkat tajam dengan munculnya dua "raksasa rakus energi" yaitu Cina dan India. Amerika yang konsumsi energinya saat ini perkapita paling rakus pun menunjukkan peningkatan. Paling tidak ketiga negara ini akan berusaha dengan susah payah untuk mencari sumber-sumber energi baru yang dapat dipakai untuk memakmurkan negaranya. Banyak ekspansi dilakukan oleh India dan Cina ke negara-negara lain. Sumber energi yang selalu dikejar adalah MIGAS.

Migas menjadi paling banyak dicari negara-negar rakus tersebut karena migas memiliki kemudahan dalam hal transportasi. Dengan sebuah kapal tanker raksasa saat ini mampu membawa ribuan bahkan jutaan ton minyak. Juga kapal-kapal tangker LNG akan dengan mudah membawa gas-gas yang sudah dicairkan ini. Mengapa ditransportasi ? Ya, karena pada prinsipnya kemakmuran akan diciptakan ketika ada "kerja" dan ada aktifitas. Dan betapa bodohnya Indonesia yang selama ini justru banyak mengekspor LNG ke luar negeri daripada sekedar memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Saat ini energi geothermal masih hanya mampu dikonversi menjadi listrik. Belum ada yg mampu memindahkan listrik antar benua. Memindahkan atau mendistribusikan listrik masih hanya dilakukan dengan dengan kabel laut antar pulau. Dengan demikian kalau mengembangkan energi listrik maka energi tersebut hanya dapat dipergunakan di daerah lokal atau regional yg dekat dengan sumber geothermal tersebut. Artinya pemanfaatan energi geothermal hanya mampu dimanfaatkan oleh Indonesia sendiri. Hal ini tentu saja sangat sesuai ditengah kelangkaan energi indonesia sekarang ini.

Dengan belum dimungkinkannya "membawa listrik" antar benua. Maka mau tidak mau energi tersebut harus dimanfaatkan di Indonesia. Nah, ini berarti Amerika, India serta Cina yang rakus energi dunia sangat kecil kemungkinannya untuk "menjarah" energi geothermal ini. Kalau toh mereka akan memanfaatkan energi ini dalam bentuk investasi, maka sudah PASTI akan dimanfaatkan oleh Indonesia sendiri. Sehingga tinggal bagaimana rakyat Indonesia mampu memanfaatkan "kesempatan bekerja" dari pemanfaatan energi yg dihasilkan oleh energi geothermal ini. Bayangkan multiplier effect yang akan dihasilkan di dalam negeri Indonesia. Sungguh merupakan jalan yang strategis.

Jadi, mengapa tidak mengembangkan geothermal yang "aman" dari ancaman "penjarahan" oleh negara-negara rakus energi ini ?

Ramah Lingkungan

Keuntungan lain geothermal adalah adanya peluang untuk memperoleh dana tunai dalam proyek mekanisme pembangunan bersih (Clean Development Mechanism/CDM). Panasbumi ke depan akan menjadi pilihan, karena kelebihannya yang ramah lingkungan. energi geothermal ini tidak menghasilkan emisi karbon yang saat ini masih menjadi perhatian khusus dari sisi lingkungan. Tidaklah berlebihan kalau panas bumi dikatakan sebagai energi yang clean and renewable for the benefit of mankind and the environment (Anwari, 1997). Disamping itu geothermal juga bisa pemanfaatan secara direct used seperti penghangat di hotel-hotel, tempat rekreasi, dan usaha-usaha kecil menengah seperti yang dilakukan di Garut Jawa Barat. Direct use tersebut kini diaplikasikan untuk sterilisasi jamur (Inisisasi BPPT) dan sekarang tengah dikembangkan penggunaan geothermal secara langsung untuk penyulingan akar wangi (diinisiasi ASGAR MUDA–mahasiswa dan alumni muda asal Garut dan PT Indonesia Power).

Geothermal memang memiliki banyak keunggulan, namun dalam pelaksanaanya menemukan beberapa kendala, sehingga kenyataannya sekarang tidak seperti yang kita harapkan. Faktor kebijakan pemerinah menjadi masih menjadi kendala. Sejak awal 1990-an, kebijakan Pemerintah di bidang pemanfaatan panas bumi mulai dikaitkan secara tegas dengan program konservasi energi di Indonesia dalam rangka menjamin kelestarian serta memanfaatkan sumber daya alam secara efisien. Pemanfaatan energi yang harus dilakukan efisien, rasional, dan bijaksana. Ini diatur Keppres No. 43 Tahun 1991 tentang Konservasi Energi.

Memang dalam Keppres No. 43/1991 sudah disebut-sebut energi non BBM, tetapi faktanya sampai sekarang orientasi pemakaian energi kita masih bertumpu pada BBM, karena BBM yang masih disubsidi masih termasuk energi paling murah. Ini menujukan ketidak konsistenan pemerintah dalam menjaankan Keppres tersebut.

Disamping kebijakan, kendala yang paling utama adalah pembangunan infrastruktur. Untuk mewujudkannya diperlukan modal yang tidak sedikit. Untuk mengebor satu sumur uap saja diperlukan setidaknya US$ 1 juta. Belum lagi bangunan PLTP dan lain sebagainya. Soal infrastruktur ini, memerlukan keterlibatan Pemerintah yang cukup intim mengingat biayanya sangat mahal. Pemerintah bertanggung jawab menciptakan iklim investasi yang stabil untuk sektor ini. Kabar baik sejauh ini menyebutkan bahwa sejumlah investor Islandia tertarik dengan potensi geothermal Indonesia yang belum banyak dimanfaatkan.

Dalam forum yang dibuka oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Industri Islandia Ossur Skarphedinsson itu, hadir sekitar 70 orang umumnya para CEO perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang geotermal dari Indonesia dan Islandia. Perusahaan-perusahaan dari Indonesia yang hadir dalam Forum antara lain Pertamina, Medco, Star Energy, Chevron Indonesia, Itochu dan lain sebagainya. Sementara dari Islandia hadir Reykjavik Energy, Lansbanki, ENEX, Century Aluminium, Reyjavik Energy Invest, Glitznir Bank dan lain sebagainya. (www.MinergyNews.Com)

Pemerintah Indonesia saat ini telah membuat suatu roadmap yang menargetkan bahwa pada tahun 2025 akan dicapai pengembangan energi geotermal sekitar 9500 MW. Untuk pengembangan ini, diperlukan suatu modal dan dukungan teknis lainnya. Selama ini kerjasama yang dikembangkan antara kedua negara adalah di bidang pelatihan para ahli geotermal Indonesia di United Nations University, Reykjavik. Syukurlah, sekarang ini kerjasama kedua negara jauh lebih nyata.

Pada forum tersebut, telah ditandatangani MOU antara Pertamina dan Reykjavik Energi untuk pengembangan geotermal di Indonesia. Diharapkan pada tahun 2008 ini sudah akan dapat dicapai kerjasama konkrit di bidang pengembangan geotermal di Indonesia. kita buktikan sama-sama apakah pemerintah akan tetap konsisten dengan rencananya itu atau tidak.

Untuk membangun kemadirian energi negara kita tiada jalan lagi selain menggunakan potensi energi yang prosfektif ini. Sudah saatnya pemerintah membuka mata, sadar dengan potensi alamnya yang melimpah, sadar dengan kesulitan-kesulitan yang dialami rakyatnya dan sadar akan tantangan masa depan yang jauh lebih lebih rumit. Sudah cukup bagi Indonesia serba tergantung negara lain hampir di setiap sektor. Kini saatnya Indonsia membuktikan diri bahwa sebenarnya Indonesia bisa mandiri dan layak mendapatkan pengakuan Internasional untuk itu. Geothermal yang merupakan potensi energi unggulan Indonesia yang bisa mewujudkan Indonesia mencapai mandiri Energi, disamping sumber-sumber lain yang juga melimpah. Kini Saatnya Indonesia menjadi kiblat teknologi dunia akan panas bumi. Itu semua akan terwujud hanya dengan kekonsistenan menjalankan aturan dan kerjasama semua pihak baik pemerintah, Pakar/Universias, masyarakat Indonesia dan Investor.

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater…..

Juara II Lomba Menulis Opini PBT ITB 2008

Menabung Indonesia

Membangun Kemandirian Bangsa

Oleh : Hendro Pratama

Tulisan yang penulis buat hari ini adalah rangkaian puisi untuk Indonesia. Opini, tulisan, gagasan, adalah puisi, yang selalu indah diucapkan. Namun lagi-lagi kita akan –atau selalu?- terjebak dalam rentetan masalah dalam pengaplikasian, bagaikan menulis prosa yang buruk. Penulis berharap agar kesenjangan antara penulisan opini ini tidak terlalu lebar dengan kenyataan di lapangan karena semua data yang ada dalam buku ini akurat, karena langsung diambil dari sumbernya..

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Memiliki kekayaan alam yang melimpah, tidak perlu saya sebut satu persatu disini, kita semua sudah tahu. Yang kita takutkan, jangan-jangan karena negeri ini sedemikian kaya, maka inilah yang membuat kita terbuai dan enggan bekerja keras. Jika kita lahir di Singapura atau Jepang, sedari kecil mungkin kita sudah ditanamkan bahwa “kita tidak punya apa-apa kecuali otak dan semangat bekerja keras!”. Bangsa kita punya sejarah yang luar biasa, sebelum dijajah oleh V.O.C. Kita punya modal untuk maju, yaitu sejarah yang gemilang, pernah mendirikan nusantara yang tersebar hinggga Filipina dan Thailand. Namun, itu masa lalu. Kita sekarang ada dalam masa dimana ekonomi kita terpuruk, kekayaan kita dirampas, martabat kita terjerembab di mata dunia. Begitu banyak masalah yang ada di Indonesia membuat kita bingung, mau mulai dari mana untuk menyelesaikannya? Setidaknya, pikiran itu terlintas dalam hati penulis. Namun, akhirnya penulis berketetapan hati untuk menulis dua hal yang penulis anggap penting. Secara umum, saya akan membahas dua aspek yang paling penting saat ini. Pertama, kebijakan politik dan kedua kemandirian energi.

Kebijakan Politik

Pola Kepemimpinan dari kemerdekaan hingga reformasi

Adalah menarik jika kita perhatikan beberapa gejala yang tertangkap tentang pemerintah dari awal negara ini merdeka hingga sekarang.

Pertama, apa yang dinyatakan pimpinan pemerintahan bukanlah apa yang dijalankan oleh pemerintahannya, misalnya presiden dan wapres kita –dari dulu sampai sekarang- dan sejumlah menteri ekonomi berulang-ulang pernyataan bahwa pemerintah berusaha menekan angka kemiskinan dan menumbuhkan sektor riil. Tapi, kebijakan-kebijakan yang ada jusrtu berdampak sebaliknya.

Kedua, janji / rencana awal dengan implementasi kinerja-kinerja birokrasi kerapkali berbeda. Malah menunjukkan gejala neoliberal yang proefisiensi sambil abai pada pertimbangan populis.

Ketiga, visi intelektual pimpinan pemerintahan kerapkali berjarak dengan kemampuan pengelolaan sumberdaya politik untuk mengamankan dan menjalankan visinya. Misalnya dalam kasus revitalisasi pertanian, sampai sekarang belum terlihat tanda-tanda tegas bahwa program ini akan diprioritaskan, terlihat bagaimana kedelai menjadi barang langka.

Keempat, pemerintah kadang melaksanakan tugas retorika dan diplomasi yang baik, tapi tertatih-tatih dalam kinerja dan meninggalkan kapasitas manajemen kebijakan mereka.

Hal diatas disebut Susan Stokes sebagai pencederaan mandat1 . Menariknya, gejala ini terlihat kentara dalam pemerintahan kabinet Keluarga Mahasiswa ITB beberapa tahun ini. Menurut Stokes, pencederaan mandat adalah persoalan mendasar dari demokrasi. Padahal idealnya, segala kritik yang ada dipahami sebagai anjuran untuk menata kembali pemerintahan sekaligus memanajemen kebijakan dan pemerintahan, sekaligus menghimbau kepeda calon penanggungjawab kebijakan di pemerintahan agar berbicara sesuai dengan data dan prestasi yang sebelumnya pernah dilakukan. Kesulitan yang terjadi dalam pemerintah pusat adalah mengelola perbedaaan pendapat yang timbul dari dalam suatu struktur pemerintahan.

Keragaman yang produktif

Pertanyaannya, bagaimana mengelola perbedaan pendapat dalam suatu struktur pemerintahan agar menjadi keragaman yang produktif? Membangun Indonesia adalah cita-cita sang sangat besar dengan melibatkan berjuta orang di dalamnya. Setidaknya, kita harus mengembangkan beberapa tradisi berikut yang mengubah keragaman menjadi produktifitas

Pertama, tradisi ilmiah. Kita bekerja dalam suatu domain yang luas dan rumit. Tidak mungkin dicerna, dianalisis dan direspons tanpa keluasan ilmu pengetahuan dan kemampuan berfikir yang sistematis dan objektif, termasuk kesediaan data yang akurat antar elemen pemerintahan. Struktur pengetahuan yang kokoh, sistematika berfikir yang sokid dan kemampuan pembelajaran yang cepat adalah tiga landasan utama tradis ilmiah.

Kedua, tradisi verbalitas. Tradisi ilmiah tumbuh subur karena diwadahi keterbukaan yang wajar, yaitu kebiasaan mengungkapkan pikiran secara wajar, natural dan apa adanya. Banyak orang yang memiliki gagasan cerdas, tapi tidak tersampaikam karena merasa kurang pantas, kurang layak, sungkan atau yang lainnya

Ketiga, tradisi pembelajaran kolektif. Kita harus belajar baik dari referensi normatif maupun pengalaman sejarah. Karena sikap pengalaman adalah manusiawi dan nisbi, kita harus belajar terus menerus untuk meningkatkan kapasitas kerja, efisiensi dan efektivitas.

Keempat, tradisi toleransi. Kita harus membiasakan diri berlapang dada, memiliki kemauan untuk melepaskan diri dari segala prasangka negatif dan berusaha menghargai waktu. Karena gagasan harus diuji di lapangan, dan itu membutuhkan waktu.

Harapannya, tradisi ilmiah diatas menumbuhkan keseimbangan yang indah antara kebebasan dan tanggung jawab, keterbukaan dan keterkendalian.

Menyoal Konsistensi Penegakan Hukum dan Pemberantasan Korupsi

Transparency International, sebuah organisasi nonpemerintah berpusat di Berlin menempatkan Indonesia di peringkat bawah dalam Indeks Persepsi Korupsi. Tabel dibawah ini menunjukkan perbandingan peringkat Indonesia dalam tujuh tahun terakhir

Tabel 1. Nilai dan Peringkat Indonesia berdasarkan Corruption Perception Index

Tahun

Skor CPI

Peringkat

Jumlah Sampel (negara)

2000

1.7

86

90

2001

1.9

88

91

2002

1.9

96

102

2003

1.9

122

133

2004

2.0

137

146

2005

2.2

140

159

2006

2.4

130

163

2007

2.3

143

179

Sumber: www. Transparency.org, data diolah

Menurut survey doing In business in 2005 yang dirilis pada tahun 2004, untuk memulai bismis di Indonesia membutuhkan waktu 151 hari. Bandingkan dengan sejumlah Negara lain di kawasan Asia Tenggara, di Malaysia membutuhkan 30 hari, Thailand 33 hari, sementara di Singapura hanya 8 hari.

Waktu yang lama untuk berbisnis di Indonesia seiring dengan bearnya ongkos yang diperlukan untuk berbisnis. Di Indonesia, besarnya ongkos yang dikeluarkan oleh pengusaha untuk memulai bisnis sebesar 130.7 % dari pendapatan nasional per kapita (gross national income per capita). Bandingkan dengan Malaysia yang hanya membutuhkan 25.1 % dari pendapatan nasional per kapita, atau Thailand yang hanya 7%, bahkan singapura hanya 1.2% pendapatan nasional per kapita. Bisa jadi, karena perbedaan kurs mata uang menyebabkan ongkos berbisnis di Singapura atau negara lain tidak jauh berbeda dengan Indonesia, tapi survey itu menghitung berdasarkan pendapatan nasional perkapita jadi relatif mudah. PAda tahun 2007, memang kinerja pemerintah naik. Untuk berbisnis di Indonesia hanya membutuhkan waktu 105 hari dan pendapatan perkapita 80%, tapi tetap saja relatif mahal. Waktu yang lama dan ongkos yang harus dikeluarkan untuk berbisnis sebenarnya menunjukkan adanya korupsi perizinan, sehingga biaya investasi di Indonesia relatif mahal dan lama. Situasi ini membuat Indonesia tidak kompetitif dibandingkan dengan Negara lain di Asia. Untuk menegakkan hokum dan kontrak bisnis di Indonesia membutuhkan waktu 570 hari. Bandingkan dengan Vietnam yang hanya 404 hari, Thailand 390 hari dan Singapura yang hanya 69 hari. Fakta-fakta ini menunjukkan peradilan di Indonesia tidak efisien. Mengapa tidak efisen? Salahsatunya adalah korupsi di peradilan atau mafia peradilan.

Jajaran pemimpin pemerintah Indonesia SBY sudah berkomitmen tidak akan korupsi. Program pemberantasan Korupsi dibuat oleh pemerintah antara lain penunjukkan Abdurrachman Saleh sebagai Jaksa Agung, lalu digantikan oleh Hendarman Supandji3 , Penerbitan Inpres No.5 thn 2004 tentang percepatan pemberantasan Korupsi4, membentuk Timtas Tipikor dan yang paling spektakuler adalah pembentukan KPK. Hasilnya, banyak anggota DPRD dan kepala derah yang dipenjara, penahanan menteri Agama, Pemeriksaaan Menteri Hukum dan HAM, pengadilan terhadap dirut Bank Mandiri, pengadilan dirut BI, penahanan gubernur Aceh,vonis terhadap mantan Menteri Kelautah, penahanan beberapa anggota KPU dan banyak lagi.

Sayangnya, ada beberapa hambatan yang harus diperhitungkan. Pertama, adanya mafia peradilan.Kita dengar beberapa kasus suap yang menghebohkan, seperti Kasus suap kepada hakim agung oleh Probosutedjo dan kasus Suap pilkada depok. Belum lagi, Resistansi hakim diantaranya keengganan para hakim melaporkan kekayaan kepada KPK. Hal ini sungguh ironis mengingat banyaknya program reformasi kelembagaan yang digulirkan di MA dan namyaknya hibah dana bantuan yang besarnya jutaan dollar bagi perbaikan peradilan.

Kedua, munculnya resistansi birokrasi terhadap penerapan good governance, khusunya transparansi dan akses public terhadap informasi. Menurut Robert Klitgaard, korupsi sama dengan kewenangan tambah monopoli minus akuntabilitas. Oleh karena itu upaya penting memberantasnya adalah meningkatkan transparansi

Dalam kepolisian juga terjadi beberapa kasus yang mencoreng citra institusi ini seperti sikap membanggakan diri, mempertahankan jabataan, penyalahgunaan wewenang dan lainnya. Penyalahgunaan wewenang dalam praktek pemberian izin, perlindungan illegal logging, belanja barang kepolisian dan infrastruktur, dan lainnya. Karena berkembang dalam waktu lama, bisa jadi sikap itu membudaya dan menjadi kepentingan kolektif. Perlu kerja keras untuk memberantasnya.Hal ini menyedihkan, karena kepolisian memiliki posisi strategis dalam masyarakat sebagai pelayan masyarakat. Terbentuknya korps kepolisian yang bersih adalah prasyarat terbentuknya masyarakat yang tertib karena patuh dan hormat terhadap proses hukum

Setidaknya ada beberapa solusi yang bisa ditawarkan. Pertama, Sudah saatnya pemerintah memilih prioritas dalam pemberantasan korupsi. Pemberantasan korupsi dalam skala besar cukup berhasil, walaupun masih terkesan tebang pilih dalam penyelesaiannya. Kedepannya, pemberantasan korupsi harus dapat dinikmati dalam masyarakat melalui perbaikan pelayanan public atau penngkatan kepercayaan terhadap institusi hokum. Jika korupsi di sector perizinan bisnis, pajak dan bea cukai maka investasi semakin mudah dan murah dan kita harap banyak investor yang tertarik berinvestasi di Indonesia

Kedua, mantan ketua KPK, Taufiequrrachman Ruki menyatakan semangat pemberantasan korupsi hanya ada pada KPK dan segelintir pemimpin, maka para pemimpin pemerintahan wajib menularkan semangat ini kepada seluruh pimpinan lembaga kenegaraan, tidak hanya di awal 2004 pada penerbitan Inpres No.5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi dengan memanggil seluruh pimpinan tinggi negara. Para pemimpin patut meneladani langkah Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H.,M.Sc., Beliau mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulaitingkat polres hingga polda. seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan

kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.4

Ketiga, tindakan-tindakan besar seperti korupsi, penyalahgunaan wewenang adalah akumulasi dari perbuatan-perbuatan kecil yang ditoleransi. Kita harus mulai membenahinya dari hal-hal yang kecil. KPK dan segelintir pemimpin adalah sekelompok orang. Untuk memberantas hal yang bersifat sistemik, kita juga harus mencari solusi sistemik. Perlu dibuat mekanisme pelaporan, reward and punishment serta pelaksanaan yang tegas agar korupsi dapat ditekan sekecil mungkin

Menyoal politik Luar Negeri

Prinsip bebas aktif Indonesia perlu dipertahankan. Setidaknya, beberapa pilar politik luar negeri dapat diterjemahkan dalam lima pilar. Pertama, tidak memasuki pakta militer dengan negara lain dengan tidak memperbolehkan pangkalan militer asing dibangun di Indonesia. Artinya, Indonesia anti itervensi asing dalam bidang militer. Kedua, kebebasan berfikir dan kemandirian berdindak yang dialndasi sikap konstruktif. artinya, Indonesia di dunia Internasional bersifat bebas dan aktif dengan menerapkan sikap dan pola pikir yang tidak melulu dilandaskan pada kecurigaan, ketakutan dan sifat defensif, melainkan pada rasa percaya diri, bersemangat kemitraan dengan negara-negara lain untuk memperjuangkan kepentingan nasional5. Ketiga, identitas internasional. Dalam hal ini,terkesan kuat, presiden harus menjaga dan lebih jauh meningkatkan citra Indonesia sebagai ngara yang outward looking dan tidak segan terlibat dalam masalah-masalah internasional. Keempat, konektivitas dengan memperluas jaringan dalam hubungan luar negeri antara lain memperkokoh track-track diplomasi Indonesia serta memperluas policy network dalam perumusan politik luar negeri. Kelima, pentingnya bebas aktif berlandaskan corak nasionalisme Indonesia. Prinsip ini merupakan perwujudan konsep bebas (independent, bukan free) artinya kepentingan nasional yang dicapai dalam politik luar negeri ditujukan sepenuhnya mengejar kepentingan bangsa Indonesia. Tentunya kepentingan nasional bukanlah desain aktor asing.

Indonesia mempunyai beberapa modal yang sekaligus selling value di dunia Internasional. Pertama, pembentukan masyarakat madani dengan proses demokratisasi Indonesia yang merupakan proses local dengan kehidupan Islam moderat di Indonesia.6 Masyarakat madani (civil society) memiliki peran yang sangat penting. Keterlibatan dan keikutsertaan ormas berbasis Islam baik dalam proses kebijakan luar negeri maupun dalam negeri dianggap dapat mendukung diplomasi serta memperkuat dukungan di dalam negeri terhadap agenda-agenda Indonesia di panggung internasional7. Modal penting lainnya adalah maraknya penerapan good governance dan budaya antikorupsi di Indonesia, Meski belum berhasil secara menyeluruh. Indonesia juga harus mempunyai pemimpin-pemimpin yang internasionalis, berwawasan global yang memberi perhatian pada masalah internasional secara intensif. Ia tidak pro Barat, tapi tidak anti barat. Pemimpin Indonesia harus jeli dan kreatif dalam menjalin hubungan dengan barat sepanjang bermanfaat dengan kepeningan nasional. Pemimpin-pemimpin Indonesia bukanlah orang yang paranoia atau siege mentality (merasa sedang dikepung oleh asing).

Pemimpin bangsa harus mempunyai visi Internasionalisme, didukung oleh kempuan komunikasi yang andal , kepiawaian diplomasi dan personal network yang luas di kalangan aktor politik internasional8. Hal ini penting karena ada pergeseran konsep keamanan. Konsep keamanan masa kini utamanya menyangkut isu primordial seperti etnis, budaya dan agama ancamannya tidak hanya menitikberatkan pada masalah militer tetapi juga aspek ekonomi, sosial-budaya, lingkungan hidup, demokratisasi dan HAM. Dengan demikian, keamanan tidak hanya terfokus dalam national independence, kedaulatan dan integritas teritorial namun mencakup nilai-nilai baru baik dalam tataran individual maupun global yang perlu dilindungi, seperti HAM, demokratisasi, perlindungan terhadap lingkungan hidup dan upaya memerangi kejahatan lintas batas (transnational crime) baik dalam perdagangan narkotika, money laundering dan terorisme9. Yang terakhir, dukungan sarana dan prasarana perlu ditingkatkan, terutama pada kualitas pelayanan keprotokolan, fasilitas diplomatik dan kekonsuleran. Misalnya, pungutan liar dari pengurusan visa dan paspor dari beberapa kedubes RI dan penyadapan terhadap KBRI di beberapa negara di eropa. Hal ini mencerminkan masih rendahnya kesadaran penggunaan teknologi, atau setidaknya mengoptimalkan Lembaga Sandi Negara.

Kemandirian Energi

Indonesia kaya sumber energi, tetapi pemanfaatan sumber itu bukan hal gampang. Kebijakan keliru dapat memicu krisis energi. Meskipun kaya energi, ternyata negara Indonesia mempunyai ketergantungan yang sangat tinggi terhadap minyak bumi. Secara umum, konsumsi minyak bumi dalam negeri terbagi menjadi dua kutub besar. Pertama, konsumsi untuk listrik. Kedua, konsumsi untuk pemenuhan kegiatan ekonomi (industri, transportasi dan pemakaian rumah tangga).

Saat ini produksi minyak Indonesia sedang mengalami masa terendah selama 30 tahun ini dan diperparah dengan melonjaknya biaya cost recovery yang mencapai titik tertinggi dalam sejarah perminyakan nasional.

Dengan harga minyak sampai menembus 100 dolar AS per barrel10, maka permintaan minyak akan turun karena industri tidak mampu mengonsumsinya. Dampak berikutnya, industri akan berhenti beroperasi dan perekonomian akan mandek

Komposisi energi primer pada 2008 yang disiapkan adalah batubara 58.668 Giga Watt hour (GWh) atau mencakup 53 persen, minyak 22.457 GWh (20 persen), gas 18.208 GWh (16 persen), panas bumi 7.923 GWh (tujuh persen), dan air 4.415 GWh (empat persen). Melihat komposisi energi primer itu, peranan minyak masih dominan dan akan semakin meningkat apabila terjadi gangguan ketersediaan gas dan batubara seperti 2007.

Pada 2007, rencananya pemakaian BBM hanya sebesar 7,65 juta kiloliter, namun terpaksa naik menjadi 10,02 juta kiloliter akibat gangguan pasokan batubara dan gas alam. Sementara pada 2008, kuota APBN hanya menetapkan 9,1 juta kiloliter, padahal kebutuhan BBM PLN diperkirakan mencapai 10,6 juta kiloliter. 10

Kebutuhan pembangkit listrik dapat dilihat dari diagram berikut ini








Diagram 1. Persentase kebutuhan pembangkit listrik terhadap sumber energi (sumber ESDM)

Pembangkit listrik tenaga uap ( PLTU ) termasuk andalan pemerintah dalam penyediaan listrik. Namun, PLTU kerapkali bermasalah karenanya letak berjauhan dari sumber batu bara. Sering sekali pasokan batubara mandek karena kapal pengangkut terhalang oleh gelombang tinggi, akibatnya adalah anjloknya produksi listrik dan pemadaman bergilir Jakarta dan sekitarnya. 11. Tak ragu lagi, Indonesia mengalami krisis energi. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Krisis energi dunia merupakan masalah bersama dan sudah tidak dapat dihindari lagi. Masyarakat dunia terutama di negara-negara maju sudah mulai mengambil langkah-langkah untuk mengurangi krisis tersebut. Mereka seakan berlomba-lomba untuk mencari alternatif energi pengganti dengan menggunakan bahan-bahan yang dapat diperbarui dan ramah terhadap lingkungan. Penggunaan bahan-bahan tambang (yang tidak dapat diperbarui) untuk pembangkit listrik mulai ditinggalkan. Teknologi-teknologi hemat bahan bakar dengan mesin-mesin yang dapat bekerja maksimal terus diciptakan. Inilah gambaran umum global sekarang krisis energi terjadi dan kondisi lingkungan hidup dunia sudah mulai rusak.

Masalah energi adalah masalah manusia di dunia, bukan hanya masalah segelintir pemimpin negara. Permasalahannya harus diselesaikan oleh partisipasi seluruh rakyat. Masalah ini punya beberapa tahapan solusi.

1. Kampanye tentang konservasi, diversifikasi dan efisiensi pemanfaatan energi secara massif. Karena konservasi inilah yang akan menjadi tulang punggung pengereman dana subsidi energi (baik listrik maupun transportasi). Fenomena yang kita dapatkan adalah orang – orang yang merasa mampu membayar energi (Listrik dan BBM )menggunakan subsidi pemerintah dengan boros. Pola pikir yang masih tertanam adalah “kalo mampu bayar, kenapa harus dihemat?”. Akibatnya, televisi, komputer, AC, dan barang elektronik lainnya tetap dinyalakan walaupun tidak dipakai. Padahal, uang negara untuk subsidi dipakai. Ironisnya, pengguna yang mampu ini mencapai 75 % pemakai energi di Indonesia.

San Fransisco mencoba mengajak penduduknya untuk lebih meningkatkan kepedulian tentang masalah polusi cahaya dan banyaknya energi yang terbuang pada setiap hari Sabtu selama satu jam. Pemadaman yang dilakukan dari jam 20.00 tersebut diberlakukan pada lampu-lampu penerangan yang tidak terlalu dibutuhkan. ''Tujuan program tersebut adalah mengkomunikasikan betapa mudahnya melakukan sesustu yang sederhana untuk menghemat energi,'' ungkap Nathan Tyler, koordinator program tersebut. Menurutnya, program pemadaman tersebut didesain untuk menunjukkan bagaimana peranan individu jika dilakukan secara bersama-sama bisa memberikan arti yang besar. Los Angeles sendiri juga berencana untuk melakukan program pemadaman tersebut pada hari Sabtu malam. Mungkin kita bisa mengadakan penghematan dengan melakukan pemadaman bergilir di luar jam-jam produktif. Tapi pemadaman bergilir ini terjadwal, sehingga diterima oleh masyarakat. Hal ini untuk menyadarkan masyarakat bahwa persoalan penghematan energi adalah persoalan serius.

2. Inovasi teknologi, yaitu alokasi dana untuk riset pengembangan energi terbaharukan. Ini mutlak harus dilakukan. Menyisihkan sebagian APBN untuk kepentingan jangka panjang. Dalam jangka pendek, memang subsidi BBM dan listrik sangat mendesak, tapi jika riset tidak kita lakukan secara terstruktur dan tidak dimulai dari sekarang, selamanya kita akan terjebak dalam krisis energi. Kita lihat bagaimana Negara-negara lain berlomba-lomba mengembangkan energi alternatif, sementara kita hanya mampu menyaksikan saja dan hanya berkutat pada pemenuhan subsidi saja. Imbasknya, efisiensi harus ditekan di pos-pos yang dirasa bisa ditekan sesuai dengan prioritas. Pemerintah juga harus memiliki target yang jelas, kapan krisis energi ini akan berakhir sehingga pos-pos lain seperti pertahanan, pertanian bisa mendapat jatah yang layak

3. Perbaikan infrastruktur primer penggerak roda perekonomian. Termasuk membangun pembangkit di daerah dekat tambang agar akses terhadap sumber energi (dalam kasus ini batubara) lancer. Sedangkan distribusinya bisa melewati kabel bawah laut. Jika pembangkit misalnya dibuat di pulau Kalimantan, membutuhkan biaya 18 triliun. Sedangkan biaya transportasi batu bara untuk masa 20 tahun mencapai 3 triliun, belum lagi masalah keterlambatan dan rusaknya jalan yang menjadi penghambat.

4. Penggunaan energi sesuai dengan potensi masing-masing daerah.

i. Pemanfaatan Energi Angin

Pemanfaatan tenaga angin sebagai sumber energi di Indonesia bukan tidak mungkin dikembangkan lebih lanjut. Di tengah potensi angin melimpah di kawasan pesisir Indonesia, total kapasitas terpasang dalam sistem konversi energi angin saat ini kurang dari 800 kilowatt. Kecepatan angin di wilayah Indonesia umumnya di bawah 5,9 meter per detik yang secara ekonomi kurang layak untuk membangun pembangkit listrik. Namun, bukan berarti hal itu tidak bermanfaat.

beberapa wilayah memiliki kecepatan angin di atas 5 m/detik, masing-masing Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Pantai Selatan Jawa.

ii. Pemanfaatan Energi Tidal dan Ombak

Energi tidal atau energi pasang surut barangkali kurang begitu dikenal dibandingkan dengan energi samudera yang lain seperti energi ombak (wave energy). Jika dibandingkan dengan energi angin dan surya, energi tidal memiliki sejumlah keunggulan antara lain: memiliki aliran energi yang lebih pasti/mudah diprediksi, lebih hemat ruang dan tidak membutuhkan teknologi konversi yang rumit. Kelemahan energi ini diantaranya adalah membutuhkan alat konversi yang handal yang mampu bertahan dengan kondisi lingkungan laut yang keras yang disebabkan antara lain oleh tingginya tingkat korosi dan kuatnya arus laut. Saat ini baru beberapa negara yang yang sudah melakukan penelitian secara serius dalam bidang energi tidal, diantaranya Inggris dan Norwegia. Di Norwegia, pengembangan energi ini dimotori oleh Statkraft, perusahaan pembangkit listrik terbesar di negara tersebut. Statkraft bahkan memperkirakan energi tidal akan menjadi sumber energi terbarukan yang siap masuk tahap komersial berikutnya di Norwegia setelah energi hidro dan angin. Perlu diketahui bahwa potensi energi tidal di Indonesia termasuk yang terbesar di dunia, khususnya di perairan timur Indonesia. Sekarang inilah saatnya bagi Indonesia untuk mulai menggarap energi ini. Jika bangsa kita mampu memanfaatkan dan menguasai teknologi pemanfaatan energi tidal, ada dua keuntungan yang bisa diperoleh yaitu, pertama, keuntungan pemanfaatan energi tidal sebagai solusi pemenuhan kebutuhan energi nasional dan, kedua, kita akan menjadi negara yang mampu menjual teknologi tidal yang memberikan kontribusi terhadap devisa negara.

iii. Pemanfaatan energi panas bumi

Akhir tahun 2006 yang lalu MIT dengan sponsor dari Departemen Energi AS merilis laporan mengenai EGS (enhanced geothermal system) yang diberi judul The Future of Geothermal Energy. Laporan yang disusun oleh berbagai ahli di bidang teknologi energi, ekonomi dan lingkungan tersebut menyimpulkan bahwa dengan memanfaatkan EGS, energi panas bumi akan mampu menyumbang 10% kebutuhan listrik di AS pada tahun 2050. Jumlah ini setara dengan pembangkit listrik beban dasar dengan kapasitas 100 GWe. Bahkan laporan tersebut juga menyebutkan, dengan pengembangan teknologi lebih lanjut, jumlah energi yang secara ekonomis dapat dimanfaatkan bisa meningkat hingga dari 10 kali lipat dari yang ada saat ini. Dengan demikian, menurut laporan tersebut, EGS bisa menjadi sumber energi pilihan yang berkelanjutan hingga berabad-abad.

Seperti diketahui, energi panas bumi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sumber energi terbarukan yang lain, diantaranya: (1) hemat ruang dan pengaruh dampak visual yang minimal, (2) mampu berproduksi secara terus menerus selama 24 jam, sehingga tidak membutuhkan tempat penyimpanan energi (energy storage), serta (3) tingkat ketersediaan (availability) yang sangat tinggi yaitu diatas 95%. Namun demikian, pemulihan energi (energy recovery) panas bumi memakan waktu yang relatif lama yaitu hingga beberapa ratus tahun. Secara teknis-ekonomis, suatu lokasi sumber panas bumi mampu menyediakan energi untuk jangka waktu antara 30-50 tahun, sebelum ditemukan lokasi pengganti yang baru.

Panas bumi yang selama ini dimanfaatkan untuk pembangkit listrik masih terbatas pada sumber-sumber yang dikategorikan ideal atau high-grade hydrothermal system. Secara umum sumber panas bumi seperti ini memiliki karakteristik seperti kedalaman reservoir yang relatif dangkal atau kurang dari 2.500 meter, memiliki kandungan uap dengan enthalpi relatif tinggi dan serta memiliki permeabilitas yang memenuhi syarat.

Dengan EGS, energi panas bumi dapat dieksploitasi pada lokasi yang saat ini dianggap tidak potensial. Hal ini dilakukan antara lain dengan dengan melakukan penyempurnaan teknologi pengeboran, pengkondisian reservoir serta penyempurnaan teknologi konversi. Teknologi EGS yang ada saat ini telah dipakai pada pengeboran hingga kedalaman 3.000 - 5.000 m. Di masa yang akan datang, diharapkan pengeboran dapat dilakukan hingga kedalaman 6.000 sampai 10.000 m. Pengkondisian reservoir untuk sumber panas bumi yang memiliki permeabilitas rendah dilakukan dengan cara menciptakan retakan (fracture) dalam volume yang luas yang sehingga memungkinkan transfer panas yang lebih besar dan efektif. Teknologi konversi juga telah ditingkatkan untuk mendapatkan transfer panas yang lebih efisien.Sekalipun demikian, masih ada sejumlah tantangan teknologi yang masih harus diatasi. Di bidang pengeboran misalnya, diperlukan teknologi yang mampu beroperasi dalam lingkungan dengan suhu tinggi dan korosif serta dengan sifat batuan yang cenderung lebih keras. Di bidang pengkondisian reservoir diperlukan antara lain: teknologi untuk mengkaji secara akurat volume dan bidang transfer panas reservoir, peralatan ukur yang mampu beroperasi pada suhu tinggi, penelitian yang lebih detail mengenai interaksi air dan batuan, teknologi pengendalian aliran fluida dengan suhu tinggi serta pemodelan reservoir yang lebih akurat. Pada sisi konversi, penyempurnaan perlu dilakukan antara lain dengan cara mengaplikasikan kondisi operasi superkritis dan memanfaatkan produk sampingan uap panas dari operasi pengeboran minyak dan gas. Mengingat teknologi EGS memiliki kemiripan dalam banyak hal dengan teknologi yang dipakai dalam industri pengeboran minyak dan gas, para ahli yang menyusun laporan tersebut yakin bahwa tantangan-tantangan tersebut dapat diatasi dengan lebih mudah dan dengan biaya yang lebih rendah.

Laporan ini tentu sangat penting bagi Indonesia, mengingat besarnya potensi panas bumi di negeri kita yang saat ini diperkirakan mencapai 27 GWe. Angka ini setara dengan 40 persen sumberdaya panasbumi dunia dan ini baru meliputi potensi panas bumi konvensional. Dengan teknologi EGS potensi tersebut sangat mungkin ditingkatkan menjadi 5 kali lipat, atau lebih dari 125 GWe. Katakanlah, hingga 25 tahun yang akan datang 50 persen dari potensi tersebut bisa dimanfaatkan, maka pada 2030 diperkirakan energi panas bumi mampu memenuhi sebagian besar kebutuhan listrik Indonesia. Jika hal ini berhasil diwujudkan, dan dengan dukungan pengembangan sumber daya energi terbarukan yang lain, maka jaminan ketersediaan sumber energi listrik yang berkesinambungan bagi Indonesia akan teratasi.

iv. Penggunaan biomass, kompor berbahan baker serbuk tanaman.

Serbuk tumbuhan, seperti sisa gergaji kayu dan sekam, selama ini lebih sering hanya dijadikan sebagai sampah. Namun saat ini, barang sisa tersebut dapat digunakan sebagai salah satu bahan bakar alternatif, untuk menggantikan minyak tanah dan gas yang semakin mahal. Pemanfaatan serbuk tumbuhan, seperti sisa gergaji kayu dan sekam sebagai bahan bakar kompor, ditemukan oleh Ahmad Sucipto (33), warga Desa Sutamaja, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes. Kompor dengan bahan bakar serbuk gergaji kayu dan sekam padi diberinya nama biomas. Biomas diartikan sebagai memasak menggunakan tumbuh-tumbuhan. Serbuk gergaji kayu dan sekam padi adalah bahan yang mudah didapat dimana-mana.

Kompor biomas memiliki nyala api merah, namun tidak menimbulkan asap. Untuk satu tabung, diperlukan serbuk gergaji kayu atau sekam padi sebanyak 1,25 kilogram. Dengan bahan bakar sebanyak itu, bisa dihasilkan nyala api selama dua jam. Besar kecilnya nyala api kompor biomas bisa diatur, sesuai dengan kebutuhan. Penggunaan kompor biomas jauh lebih irit bila dibandingkan dengan kompor minyak tanah. Jumlah kalori panas yang dihasilkan pun lebih banyak. Dari hasil perbandingan yang dilakukannya, untuk merebus satu panci air hingga mendidih dengan menggunakan kompor minyak tanah, diperlukan waktu selama 32 menit. Namun dengan menggunakan kompor biomas hanya dibutuhkan waktu sekitar 18 menit. Selain itu, dengan menggunakan kompor biomas, bisa dilakukan penghematan hingga Rp 18.000 per minggu, bila dibandingkan dengan menggunakan kompor minyak tanah.

Penutup

Persoalan Indonesia terlalu banyak. Tidak cukup hanya dalam opini ini saja tertuang. Lalu, dengan gambaran diatas, mungkinkah kita harus optimis dalam carut-marut Negara ini? Dibalik ketidakpastian dan kemelut yang melanda negeri ini? Adakah alas an mengapa kita harus optimis ?

Sebelum menjawab pertanyaan diatas, kita –rakyat Indonesia- harus membongkar ulang paradigma kita tentang optimisme versus pesimisme. Ada dua kesalahan dalam konteks ini. Pertama, kita terbiasa membayangkan Indonesia sebagai “satuan besar” yang beban pembenahannya diletakkan sepenuhnya pada pundak kita. Kita tidak dibiasakan memandang pembenahan Indonesia adalah hasil dari usaha-usaha kecil yang dilakukan banyak orang dengan segenap keterbatasannya. Kedua, selama ini kita terbiasa menitipkan pembenahan Indonesia kepada segelintir “orang-orang besar”, yaitu orang-orang yang memerintah dan berkuasa. Kita sangat terbiasa memandang sejarah sebagai hikayat orang besar yang di pundak mereka Indonesia diusung kemana-mana. Kita tak terbiasa memahami sejarah sebagai percikan peluh dan darah orang-orang yang namanya tidak dikenal yang jumlahnya jutaan, yang memikul serpihan kecil Indonesia sesuai dengan keterbatasan kemampuan dan arena kerja masing-masing untuk memerdekakan secara fisik negeri ini. Terjadilah kekeliruan paradigmatis sebagai konsekuensi. Sekarang kita terbiasa menunggu orang-orang besar bekerja atas nama dan untuk kita. Kita terbiasa menitipkan perebutan masa depan pada segelintir orang yang kita pandang lebih dari kita, kita tidak terbiasa menabung Indonesia.

Dalam hal ini, kita harus memelihara optimisme. Pesimisme yang ada di dekat kita sekarang terkesan bukanlah pilihan, melainkan sesuatu yang tidak terhindarkan. Kita terbiasa memborong pesimisme, tapi jarang mencicil optimisme. Langkah kita ke depan dimulai dengan menabung optimisme karena kita tak akan sanggup membangun Indonesia sendirian. Kita bisa membangun perbaikan dalam skala yang terjangkau, di tempat aktivitas masing-masing. Bagi mereka yang terbiasa dengan mekanisme kerja instant, gagasan ini tentu tidak menarik. Justru, itulah persoalan bangsa ini, kita tidak terbiasa bekerja keras. Tidak perlu menunggu ratu adil untuk datang ke negeri ini dan menyelesaikan masalah negara ini. Ratu adil itu sudah disini, ia adalah kau, aku, dan kita semua! Krisis ini tidak bisa diselesaikan oleh segelintir orang. Mari, kita bersama-sama mencicil optimisme sembari menabung Indonesia!

Catatan Kaki:

1) Susan C. Stokes.2001. Mandates and Democracy: Neoliberalism by surprise in Latin Amerika. Cambridge: Cambridge University Press.

2. Anis, Matta.2002.Menikmati Demokrasi. Jakarta: Pustaka Saksi

3) Setidaknya, figur beliau dikenal sebagai Hakim Agung yang bersih dan dianggapmendukung pemberantasan korupsi

4) Pikiran Rakyat Edisi 10 Februari 2008

5) Yuri Octavian Thamrin.2005."Kilas Balik dan Proyeksi Diplomasi RI".MO, Men's Obsession, Edisi Khusus SBY 2005, Jakarta:PT. Dharmapena Cipta Media.hlm. 145

6) "Presiden RI: Islam harus bantu Menjawab Tantangan Global". Kompas 21 Juni 2006.

7) "Rizal Sukma."Dimensi Domestik Politik Luar Negeri Indonesia".2003.Mencari Desain Baru Politik Luar Negeri Indonesia. Center for Strategic and International Studies. hlm. 47-50"

8) Dr. Anak Agung Banyu Perwita & Dr. Yanyan Mochamad Yani.2005. Pengantar Ilu Hubungan Internasional. Bandung. PT Remaja Rosdakarya. hlm. 100.

9) Anak Agung Banyu Perwita."Iu KEamanan Non Tradisional dan Deain Beru Politik Luar NEgeri Indonesia". Dalam Bantarto Bandoro(ed).Op.Cit.hlm.98-101

10) 1 barrel = 158,99 liter

11)Pasokan Listrik Jawa-Bali Terbatas Pada 2008, http://www.antara. co.id/arc/2008/1/1/ pasokan-listrik-jawa-bali-terbatas-pada-2008/

12) ”Pindahkan Pembangkit Listrik ke Sumber Batu Bara ”Media Indonesia, Senin 25 Februari 2008

Juara III Lomba Menulis Opini PBT ITB 2008

Tehcnopreneurship : Solusi Kemandirian Bangsa

Oleh : Aulia Hamdani Feizal

Sungguh aneh jika kita telah berpuluh-puluh tahun merdeka, tapi kita masih membicarakan tentang kemandirian bangsa. Waktu enam puluh dua tahun merupakan waktu yang cukup lama bagi sebuah bangsa untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang maju dan mandiri. Pasti ada yang salah dengan perjalanan mengisi kemerdekaan bangsa ini jika dalam waktu lebih dari 62 tahun, isu kemandirian masih merupakan isu yang sering kita bahas.

Kemandirian (self relience) pada dasarnya adalah perilaku yang mengutamakan kemampuan diri sendiri dalam mengatasi permasalahan untuk mencapai tujuan, atau dengan kata lain keadaan dapat mengurus kepentingan sendiri tanpa bergantung pada pihak lain. Dalam konteks kebangsaan kemandirian berarti mengutamakan potensi dan kekuatan nasional dalam menghadapai tantangan bangsa demi mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera. Dalam hubungannya dengan pembangunan, kemandirian dapat menjadi suatu parameter, apakah karena pembangunan tersebut rakyat dapat lebih mandiri dan bebas atau justru semakin bergantung kepada pihak-pihak tertentu. Sebagai contoh : apakah dengan dilaksanakannya pembangunan, industri-industri akan semakin mandiri atau justu semakin bergantung dengan bahan mentah impor. Apakah negara kita swasembada pangan atau justru malah mengimpor beras dari luar negri.

Selanjutnya kemandirian dalam bidang politik dapat diartikan bahwa kita dapat dengan bebas menentukan kebijakan tanpa adanya intervensi dari pihak manapun. Dalam pergaulan politik internasional suatu bangsa yang mandiri akan dapat menyatakan pendapatnya dengan bebas. Selain itu kemandirian nilai dan budaya juga merupakan hal yang penting. Kemandirian nilai dapat menjadi suatu ukuran dalam melihat martabat suatu bangsa. Bangsa yang memiliki identitas dapat dengan lantang mengatakan bahwa bangsanya sejajar dengan bangsa lain di dunia.

Oleh karena itu, kemandirian merupakan harga mati dari sebuah kemerdekaan. Kemandirian adalah makna dari kemerdekaan. Kemandirian dan kemerdekaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Kemandirian merupakan supremasi bagi sebuah bangsa yang merdeka. Martabat suatu bangsa yang merdeka adalah tidak bergantung pada bangsa lain. Kemandirian merupakan martabat yang diraih melalui sebuah perjuangan. Kemandirian adalah humanisasi dan emansipasi. Kemandirian merupakan suatu konsep yang sangat relevan dengan peran manusia sebagai khalifah Allah. Kemandirian merupakan kodrat manusia yang paling hakiki dan tidak bisa ditawar lagi.

Akan tetapi pada kenyataannya, Bangsa Indonesia yang telah lebih dari 62 tahun merdeka masih sangat jauh dari kondisi diatas. Kenyataan yang terjadi pada bangsa ini justru sebaliknya. Negara kita yang terkenal kayak akan minyak bumi, saat ini justru menjadi negara importir minyak. Sumber mineral kita banyak dieksploitasi oleh pihak asing. Hal yang lebih menyedihkan adalah manfaat terbesar justru bukan didapat oleh bangsa kita sendiri melainkan pihak kontraktor asing dan kroni-kroni Indonesianya. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana pemerintah kewalahan mengatasi kebakaran hutan yang terjadi pada tanahnya sendiri. Tanah dimana tumbuh hutan-hutan yang sangat luas dan lebat.

Bangsa kita yang dikenal sebagai bangsa maritim dengan ironisnya tidak berdaya dengan lautnya sendiri. Masih banyak potensi laut kita yang belum ter-eksplore, bahkan belum diketahui. Kita belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memberdayakan laut kita sendiri. Kapal-kapal asing setiap tahun mencuri ikan dari laut kita. Tidak hanya ikan, pasir kita juga ternyata memiliki nasib yang sama. Setiap tahun pasir kita dikeruk dan diselundupkan ke negara tetangga. Sampai saat ini, pasir kita yang telah dicuri setidaknya bernilai tiga milyar dolar AS. Kita juga pernah beberapa kali kewalahan dalam melindungi pulau kita sendiri dari klaim pihak asing.

Semua aset yang kita punya dijual kepada pihak asing. Kita begitu bangga dengan investasi asing yang masuk ke Indonesia. Asingisasi begitu marak dimana-mana. Tidak cukup hanya kekayaan alam, badan usaha strategis milik pemerintah pun terancam mengalami asingisasi. Akhirnya kita mendapati semua aspek kehidupan kita sudah digregoti oleh asing. Industri-industri yang adapun hanya industri perakitan yang sebagian besar untungnya pun ke luar negri. Industri perakitan tersebut hanya sedikit memberikan nilai tambah pada teknokrat-teknokrat negeri ini. Indonesia hanya berperan sebagai pasar. Industri tersebut dipaksa untuk bekerja keras dengan biaya produksi yang minim, sehingga kaum buruh Indonesia terus menerus menjerit sementara untung yang dinikmati oleh pemilik modal asing semakin berlipat-lipat.

Pembangunan dilakukan dengan pondasi yang lemah : utang luar negri. Sejak tahun 1967, untuk membiayai pembangunan pemerintah kita mengemis-ngemis utang dari organisasi moneter internasional. Akhirnya sampai saat ini kita berada dalam jebakan utang (debt trap). Pembangunan kita pun tak luput dari pengawasan dan kepentingan para kapitalis tersebut. Pembangunan tidak lagi memiliki orientasi untuk mensejahteraan rakyat. Pembangunan dilakukan hanya untuk memenuhi keadaan-keadaan yang disyaratkan oleh lembaga moneter internasional. Bahkan setiap tahunnya IMF (International Monetary Fund) menyusun sebuah laporan tentang Indonesia yang harus dilaksanakan jika Indonesia tidak mau diisolasi dari negara peminjam hutang. Hal ini pada akhirnya mengakibatkan tumpulnya visi pada pembangunan kita. Pembangunan yang seperti ini tentu sangat jauh dari konsep mandiri dan cita-cita bangsa.

Dari fakta-fakta diatas dapat dengan jelas kita lihat bahwa Indonesia saat ini masih sangat jauh dari kata mandiri. Pihak asing masih begitu kental berada dalam kehidupan kita sehari-hari. Apa yang telah terjadi sebenarnya? Mengapa bangsa yang dahulunya sangat mahsyur dengan kisah Majapahit ini bisa terjebak dalam kondisi yang demikian buruk?

Sebenarnya, ide dan tekad untuk menjadi bangsa yang mandiri telah ada sejak zaman pra-kemerdekaan. Pada tahun 1923, Perhimpunan Indonesia yang ada di Negeri Belanda telah mengeluarkan pernyataan bahwa tiap-tiap orang Indonesia harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dengan kemampuan sendiri, tanpa terikat dengan bantuan orang lain. Pernyataan Perhimpunan Indonesia tersebut kini dikenal dengan Manifesto Politik 1925. Menurut seorang pakar sejarah Sumpah Pemuda 1928 lahir dari pengumandangan kembali dimensi-dimensi manifesto ini.

Pada tahun 1932 Muhammad Hatta dalam tulisannya berjudul Ke Arah Indonesia Merdeka mengaskan bahwa tiap-tiap bangsa mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Selanjutnya Muhammad Hatta kemudian menegaskan bahwa agar tercapainya suatu masyarakat yang berdasar keadilan dan kebenaran, haruslah rakyat insaf akan hak dan harga dirinya dan kemudian bangsa tersebut harus menetukan nasibnya sendiri. Pada awal kemerdekaanpun bapak proklamator kita, Sukarno, telah menyuarakan slogan “ berdiri diatas kaki sendiri” atau yang kita kenal dengan istilah “berdikari”.

Para cerdik cendekia tersebut memang memiliki pemikiran yang sangat cemerlang. Jauh sebelum Indonesia terpuruk mereka telah menegaskan pentingnya arti kemandirian. Akan tetapi ternyata para cerdik cendekia tersebut hanya segelintir dari masyarakat Indonesia. Tiga Abad Indonesia dijajah oleh Belanda. Penjajahan telah mewariskan mentalitas masyarakat yang lemah dan bobrok. Penjajahan adalah kejahatan sosial, kultural, politik dan ekonomi. Masa penjajahan adalah masa dehumanisasi, diskriminasi dan humilasi. Masa penjajahan yang begitu lama telah membentuk bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermental kuli. Kita tidak lagi dapat berpikir inovatif dan kreatif.

Selain itu, penjajahan dengan efektif telah menggunakan kekuasaan feodal pribumi. Jiwa-jiwa feodalistik tersebut sampai saat ini telah begitu sukses diwariskan dari generasi ke generasi. Pucuk-pucuk kepemimpinan tertinggi di negeri ini banyak dipegang oleh kaum elit bangsawan yang sama sekali tidak membumi dan tidak merakyat. Negara demokrasi dimana seharusnya kekuasaan tertinggi ada di tangan rakyat malah direpotkan dengan banyaknya pejabat yang justru tidak berpihak kepada rakyat. Arogansi birokrasi begitu kental terasa. Hal ini pada akhirnya menyebabkan kesenjangan terhadap kepemilikan terhadap pembangunan. Hanya pihak-pihak tertentu saja yang dapat menikmati hasil pembangunan. Pihak-pihak tertentu ini tidak lain dan tidak bukan adalah para elit kekuasaan atau mereka yang secara sosial dan ekonomi mampu meraih kesempatan yang ada. Keadaan ini terus terpelihara dan tumbuh subur pada era orde baru. Merekalah para pengkhianat bangsa. Mereka yang dahulu memegang kekuasaan di negeri ini dengan bangganya lebih memilih mengurus kepentingan global ketimbang mempelajari kepentingan rakyatnya sendiri. Akibatnya saat ini bangsa kita terjebak dalam suatu lingkararan setan yang merupakan bagian dari sekenario kekuatan global.

Tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Semua permasalahan diciptakan dengan solusinya. Selalu ada celah di setiap kesulitan. Iran, Cina dan India adalah negara yang telah menemukan celah tersebut.

Iran adalah sebuah negara yang memiliki penduduk hanya sekitar 60 juta jiwa. Masyarakat Iran cendrung tidak heterogen, mereka dipersatukan oleh sebuah agama dan ideologi : islam. Negara Iran sejak dahulu terkenal dengan negara yang tidak tunduk terhadap dunia barat. Di saat banyak negara berkembang bersikap manut-manut terhadap kebijakan politik internasional dunia barat, Iran justru dapat bersikap objektif dan seusai pendirian.

Saat ini kita semua menyaksikan bagaimana Iran menjadi sebuah bangsa yang mampu membebaskan diri dari negara barat. Kita masih ingat bagaimana dahulu Iran terkena embargo dari Amerika Serikat selama dua belas tahun. Iran dengan gagahnya mampu bertahan dengan kondisi tersebut. Bahkan Iran berani mengambil langkah-langkah untuk bekerja sama dengan negara-negara yang terkena embargo Amerika Serikat. Dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, Iran telah mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara lain, bahkan dengan negara barat. Bahkan ketika Iran terkena embargo, banyak kalangan yang masih percaya bahwa Iran masih memiliki kemampuan militer yang canggih. Dalam kancah perpolitikan internasional, Iran mampu bersikap dan menyampaikan pendapatnya dengan bebas

Jika kita lihat lebih dekat, Iran justru tidak terlihat seperti negara-negara yang superior pada umumnya. Kita tidak akan menemukan gedung-gedung tinggi, pusat-pusat hiburan, mal-mal megah, rumah-rumah mewah dan simbol-simbol kemakmuran lainnya. Bahkan kantor pemerintahpun sangat jarang yang dibangun dengan megah seperti layaknya di negara-negara barat. Tapi dibalik itu semua, kita dapat dengan mudah menemukan perpustakaan-perpustakaan berstandar internasional. Kita juga dapat dengan mudah menemukan pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan seperti laboratorium-laboratorium dengan fasilitas yang baik. Laboratorium tersesebut setiap tahunnya selalu menghasilkan karya-karya yang menjadi modal kemajuan teknologi Iran. Iran benar-benar sadar bahwa penguasaan teknologi merupakan modal awal bagi sebuah bangsa untuk dapat menjadi bangsa yang mampu berdiri sendiri.

Dari Iran kita bergesar sedikit ke Timur, ke salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia : India. Sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini India merupakan salah satu negara yang sukses mengembangan dunia teknologi informasi. Banyak ahli-ahli teknologi teknologi informasi yang bekerja di laboratorium-laboratorium negara barat yang berasal dari India. Saat ini India telah berhasil menciptakan mobil dan pesawat dari keringat mereka sendiri. Bahkan produk-produk teknologi dari India, seperti alat-alat instrumentasi kedokteran, sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Produk-produk India ini terkenal jauh lebih murah dari produk buatan Amerika Serikat sekalipun.

India merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat banyak. Pemerintah India sepertinya benar-benar mengerti bahwa manusia adalah aset yang paling berharga. Setiap tahunnya jutaan mahasiswa India berekspansi ke luar negeri. Mereka semua menjadi agen-agen untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi barat. Mereka menjelma menjadi makhluk kosmopolit. Namun setelah mereka berhasil mempelajari teknologi barat, kebanyaan mereka banyak yang kembali ke negaranya. Di negaranya mereka mendirikan pusat-pusat riset terutama di lingkungan universitas. Saat ini universitas-universitas di India banyak yang menjadi jajaran universitas top dunia. Dalam hal ini jiwa nasionalisme begitu terasa. Setiap tahunnya penduduk India berlomba-lomba untuk masuk ke universitas-universitas tersebut. Hal ini tentu tak lepas dari peran pemerintah India. Inilah usaha India untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia mereka : membangun pendidikan yang baik.

Lain India, lain pula Cina. Saat ini Cina merupakan negara dengan gaya kapitalisme yang halus. Negara ini dulu pernah berada pada masa kelam, yaitu ketika mereka percaya pada doktrin Karl Marx tentang sosialisme. Sosialisme dahulu pernah mendarah daging di Cina. Namun saat ini Cina menjadi negara yang lebih terbuka dengan pihak asing, terutama barat. Cina berusaha menjadi surga investasi bagi pihak asing. Politik dan birokrasi dikondisikan untuk mendukung hal ini. Sehingga saat ini di Cina banyak terdapat kawasan-kawasan industri teknologi tinggi. Gedung-gedung tinggi pencakar langitpun berdiri dimana-mana. Semua itu adalah simbol dari kemajuan dan kemakmuran Cina.

Dibalik itu semua, Cina sadar bahwa kemajuan tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi. Cina sadar jika mereka terus seperti ini, Mereka hanya akan berakhir menjadi pasar. Di awal pembangunannya, Cina membeli banyak sekali hak cipta. Tujuannya agar bangsanya dapat berinovasi menciptakan sendiri barang-barang mereka dengan nilai tambah teknologi. Dengan demikian, negaranya tidak hanya menjadi tempat perakitan selayaknya di Indonesia. Perlahan Cina dapat mengimbangi teknologi asing. Saat ini Cina justru dapat menciptakan sendiri barang mereka sendiri.

Untuk mendukung semua itu pemerintah cina banyak mendirikan pusat-pusat riset dan universitas. Bahkan universitas mereka yang berada di Peking menjadi salah satu universitas terkemnuka di kawasan Asia Pasifik. Saat ini Cina juga telah merombak ajaran konfusionisme sebagai kepercayaan masyarakat. Justru saat ini konfusionisme menjadi ajaran progresif yang memajukan bangsanya. Hal ini sangat luar biasa mengingat keluar dari suatu doktrin dan dogma bukan perkara gampang. Cara berpikir kritis dan progresif sangat diperlukan disini.

Jika kita berkaca pada tiga neraga tersebut, kita dapat menarik sebuah benang merah tentang kemandirian bangsa : penguasaan teknologi. Kemandirian bukan terletak pada gedung-gedung pencakar langit, konsumsi bahan bakar yang tinggi, pendapatan perkapita yang tinggi, atau bukan juga pada sistem ekonomi yang mutakhir. Bahkan kemandirian juga tidak ditentukan oleh GNP (Gross Net Product) dan GDP (Gross Domestic Product) yang tinggi. Akan tetapi kemandirian adalah ketika daya cipta dan karya suatu bangsa dijadikan kekuatan utama bagi pemenuhan kebutuhan. Salah satu pemenuhan kebutuhan sebuah bangsa yang paling esensial adalah penguasaan teknologi.

Bangsa yang menguasai dunia adalah bangsa yang menguasai teknologi, pencipta teknologi, penyerap teknologi dan pengguna teknologi. Pada zaman dahulu, Bangsa Eropa dapat menjadi bangsa yang menguasai dunia karena mereka menguasai teknologi penjelajahan sehingga mereka dapat mengarungi samudra dan pada akhirnya menguasai daerah-daerah kaya sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan mereka. Paham imperialisme dan kolonialisme-pun lahir ke muka bumi. Sehingga selama berpuluh-puluh tahun, banyak bangsa-bangsa di Asia yang menjadi jajahan bangsa-bangsa Eropa. Akan tetapi penguasaan teknologi yang seperti demikian tentu tidak lagi relevan dengan kondisi dunia saat ini. Penguasaan teknologi saat ini adalah untuk memnberi nilai tambah terhadap suatu barang dan jasa sehingga kita dapat mengambil keuntungan.

Potensi alam Indonesia yang melimpah ruah akan percuma jika tidak diolah. Pengolahan terhadap sumber kekayaan alam tersebut hanya bisa dilakukan oleh bangsa yang telah menguasai teknologi. Pada kenyataannya, banyak industri pertambangan dan perminyakan di Indonesia yang dikuasai perusahaan asing. Pihak asinglah yang menjadi pelaku utama dalam mengolah kekayaan alam kita. Bangsa kita hanya menjadi pekerja dan mendapatkan ”upah” yang sama sekali tidak sebanding dengan keuntungan yang dihasilkan. Bangsa kita justru seringkali dirugikan dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan industri-industri tersebut. Hal ini diperparah dengan adanya kongkalikong para elit penguasa negeri ini dengan pihak-pihak asing tersebut sehingga kekayaan alam kita terus menerus dikeruk oleh orang lain dimana bangsa kita hanya sedikit menikmati keuntungan.

Negara kita juga dibanjiri oleh produk-produk dari luar negeri. Dalam dunia telekomunikasi misalnya, kita dapat melihat bagaimana hampir semua kebutuhan akan telekomunikasi disediakan oleh pihak asing. Lagi-lagi pihak asing menikmati keuntungan yang berlipat. Negeri kita menjelma menjadi pasar paling menggiurkan di mata orang-orang asing. Akhirnya setiap tahunnya aliran dana keluar negeri mengalir dengan derasnya. Hal ini tentu tidak akan terjadi jika bangsa ini dapat menciptakan produk-produk yang dapat memenuhi kebutuhan kita sendiri.

Ketika pada tahun 90-an Indonesia dikenai embargo peralatan militer oleh Amerika Serikat, TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang banyak menggunakan produk militer dari Amerika Serikat akhirnya mengalami kesulitan untuk mendapatkan suku cadang. Akhirnya selama beberapa tahun negara kita menjadi negara dengan pertahanan yang lemah. Saat itu, jika sewaktu-waktu bangsa kita diserang oleh negara lain, tentunya negara tersebut dapat menguasai negara kita dengan mudah.

Keadaan diatas tentu sangat kontradiktif dengan keadaan Iran yang berusaha menguasai teknolgi dengan kesederhanaa, India yang dengan kerasnya menguasai teknologi, atau Cina yang memanfaatkan investasi asing untuk menguasai teknolgi. Ketiga bangsa tersebut kini dapat menjadi bangsa yang mandiri dan dapat menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa bangsa kita masih lemah dalam penguasaan tekonogi sehingga sampai saat ini bangsa kita selalu bergantung terhadap penyedia teknologi yang tidak lain adalah pihak asing.

Setiap tahunnya, pemerintah kurang memberikan perhatian terhadap pengembangan teknologi. Bahkan Kementrian Riset dan Teknologi kurang begitu populer dibandingkan Kementrian Kordinator Ekonomi. Pemerintah jarang bersikap koperatif dengan industri-industri teknologi di Indonesia. Pada akhirnya Industri berbasis teknologi di Indonesiapun tenggelam diantara Industri-indsutri dari luar negeri. Bahkan semenjak era milenium ketiga ini, pemerintah sering sekali menganak tirikan industri-industri teknologi nasional seperti PT Dirgantara Indonesia misalnya.

Keadaan ini sangat ironis mengingat ternyata bangsa kita memiliki kualitas sumber daya manusia yang mumpuni. Indonesia memilki banyak teknokrat-teknokrat handal yang seringkali direkrut oleh perusahaan asing. Kita juga memilki praktisi hampir di semua bidang teknologi. Negara kita juga tidak jarang menjuarai kompetisi-kompetisi sains tingkat internasional seperti olimpiade fisika, kimia, matematika atau astronomi. Kita juga memilki dua instutitut teknologi yang menjadi ujung tombak pengembangan teknologi.

Untuk membangun indsutri berbasis teknologi di Indonesia, diperlukan kerjasama dari banyak pihak. Pihak yang paling sentral adalah pemerintah. Pemerintah diharapkan dapat membangun iklim yang mendukung industri-industri teknologi dalam negeri. Bahkan jika perlu, pemerintah harus membuat kebijkan-kebijakan yang menguntungkan industri-industri dalam negeri sehingga dapat bersaing dengan industri dari luar negeri. Pemerintah juga harus membangun suatu kawasan pengembangan teknologi seperti Silicon Valley di Amerika Seikat. Kawasan ini nantinya menjadi pusat pengembangan teknologi seperti riset. Bahkan negara tetangga kita, Malaysia, telah membangun kawasan ini sejak beberapa tahun yang lalu. Pemerintah juga harus memiliki anggaran riset yang mencukupi. Kenyataannya selama ini anggaran untuk riset yang dikeluarkan pemerintah sangatlah kecil.

Penguasaan teknologi tidak lepas dari peran perguruan tinggi. Hal ini berarti untuk mewujudkan bangsa yang menguasai teknologi maka kita tidak boleh melupakan dunia pendidikan. Sebagaimana seperti yang telah diuraikan diatas, Iran, India dan Cina memiliki pusat-pusat riset yang ada di universitas-universitas di negara mereka. Hal ini membuktikan bahwa negara-negara tersebut memiliki kualitas pendidikan yang baik. Pemerintah negara tersebut sangat serius dalam menyusun langkah-langkah untuk meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Dalam peringkat perguruan tinggi yang disusun oleh banyak kalangan, universitas di Cina dan India selalu masuk dalam peringkat lima puluh besar. Sementara universitas yang ada di Iran merupakan salah satu universitas top yang ada di kawasan Timur Tengah.

Saat ini dunia pendidikan di Indonesia masih jauh dari kata baik. Jangankan untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas, untuk membebaskan semua masyarakat Indonesia dari buta huruf saja pemerintah belum mampu. Hal ini diperparah dengan kecilnya anggaran pendidikan setiap tahunnya, bahkan lebih kecil dari anggaran untuk mensubsidi BBM (bahan bakar minyak). Pendidikan yang buruk merupakan indikator bahwa bangsa ini masih jauh dari penguasaan teknologi yang berarti masih jauh pula untuk menjadi sebuah bangsa yang mandiri.

Selain penguasaan teknologi dan pendidikan hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah rasa nasionalisme. Nasionalisme merupakan roh yang menggerakkan kekuatan nasional. Kita dapat belajar dari India. Pemerintah India banyak mengirimkan mahasiswa-mahasiswanya untuk belajar ke luar negri. Akan tetapi ketika pemerintah India membutuhkan kembali tenaga mereka untuk mengembangkan teknologi di negaranya, maka mereka dengan senang hati kembali ke negaranya. Kita juga dapat belajar dari Cina dimana negaranya mampu menerapkan hukuman tembak mati bagi pejabat yang korupsi. Hal ini tentu tidak lepas dari rasa nasionalsime terhadap bangsa sendiri.

Pada zaman orde baru, banyak elit kekuasaan dipegang oleh pengkhianat-pengkhianat bangsa yang miskin akan nasionalisme. Mereka lebih memilih menjual negara ini kepada asing daripada kepada rakyatnya sendiri. Mereka telah menggadaikan identitas mereka demi keuntungan pribadi. Orang-orang seperti ini mempunyai pengaruh yang kuat pada masa orde baru. Bahkan hingga sekarangpun masih banyak dari mereka yang menjadi pejabat-pejabat di negeri ini. Lebih parahnya lagi, kelompok tersebut saat ini sedang gencar menyebarkan doktrin-doktrin anti nasionalisme. Mereka mengatakan bahwa nasionalisme sudah tidak relevan lagi dengan arus globalisasi yang semakin hari semakin deras. Akibat doktrin anti nasionalisme ini, banyak teknoktrat-teknokrat negeri ini meninggalkan bangsanya sendiri dengan dalih globalisasi.

Tahun lalu sedang ramai dibicarakan kasus ladang minyak Blok Cepu yang ”diserahkan” pemerintah kepada Exxon Mobile. Blok Cepu hanya merupakan satu dari sekian banyak aset negara ini yang telah dijual pemerintah kepada pihak asing. Hal ini tentu tidak akan terjadi jika para pejabat pemerintah memiliki rasa nasionalisme. Pemerintah akan semaksimal mungkin mengutamakan kekuatan dan kepentingan nasional untuk mengelola kekayaan alam Indonesia. Bahkan jika perlu, pemerintah akan bertahan dengan kondisi miskin dimana kekayaan alam belum dapat diolah karena potensi nasional belum mampu untuk melaksanakannya. Semua itu tentunya berpulang kepada rasa nasionalisme.

Dari uraian diatas, ada beberapa keywords terkait dengan kemandirian sebuah bangsa. Keyword tersebut adalah penguasaan teknologi, inovasi dan kreasi, pendidikan, dan nasionalsime. Semua kata kunci tersebut dapat diimpelmentasikan dengan technopreneurship.

Technology entrepreneur atau lebih dikenal technopreneur adalah pengusaha yang memanfaatkan teknologi untuk menciptakan suatu nilai tambah dari barang dan jasa. Technopreneur diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan kemandirian bangsa. Dengan technopreuner kita dapat menjadi bangsa yang menguasai teknologi, karena dunia technopreneurship tidak akan lepas dari kata inovasi teknologi.

Dalam era globalisasi seperti saat ini, Indonesia dituntut untuk mengubah perekonomiaannya dari resourced based ke knowlege based. Resource based adalah perekonomian yang mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Resource base akan menghasilkan nilai tambah yang kecil karena hanya menghasilkan komoditi dengan proses yang tidak begitu mutakhir. Dengan technopreneur yang merintis bisnis-bisnis baru dengan inovasi teknologi, Indonesia akan dapat menjadi negara knowledge based economy.

Technopreneur diharapkan akan berperan sebagai salah satu motor penggerak perekonomian bangsa, karena technopreneurship akan menciptakan lapangan kerja baru. Hal ini tentu akan menjadi solusi terhadap banyaknya jumlah pengangguran intelektual di Indonesia. Dengan technopreneur, kita dapat memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa, khususnya di bidang teknologi, dengan kekuatan kita sendiri. Hal ini tentunya akan menghentikan aliran dana yang selama ini banyak mengalir ke luar negeri. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan perekonomian negara kita. Slogan yang cocok untuk menggambarkan technopreneur adalah ”Dari kita dan untuk kita”. Selain itu, technopreneurship juga akan menjadi wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia khususnya di bidang teknologi, karena dalam technopreneur, riset dan inovasi tak akan berhenti dilakukan.

Technopreneur juga dapat menjadi solusi dari masalah pengrekrutan teknokrat-teknokrat muda Indonesia oleh perusahaan asing. Dengan adanya technopreneur, lulusan perguruan tinggi dapat menjadi pelaku technopreneur dengan menjadi pemilik usaha bidang teknologi atau sekalipun hanya menjadi pekerja di negeri sendiri. Hal ini pada akhirnya akan menumbuhkan rasa nasionalisme karena kita dapat bekerja dan berkontribusi untuk kemajuan bangsa kita sendiri. Arifin Panigoro dengan bendera Medco-nya atau Tri Haryo Susilo dengan bendera Rekayasa Industri-nya merupakan sedikit contoh dari orang-orang yang telah berhasil menjalankan technopreneurship.

Pertanyaan yang timbul sekarang adalah : bagaimana menumbuhkan jiwa technopreneur? Jiwa-jiwa technopreneur diharapkan tumbuh pada generasi muda, khususnya mahasisawa, yang sedang berada dalam lingkungan perguruan tinggi teknologi. Akan tetapi pada kenyataanya, dari banyak mahasiswa Indonesia, hanya sedikit yang memilki jiwa wirausaha. Mereka biasanya berasal dari keluarga pengusaha dan pedagang. Kenyataan membuktikan bahwa ternyata jiwa entrepreuneur adalah jiwa yang dapat dipelajari dan dibentuk. Perguruan tinggi merupakan tempat yang paling tepat untuk membina jiwa kewirausahaan ini.

Selama berpuluh-puluh tahun, di Indonesia terjadi dikotomi antara ilmu pengetahuan dan ekonomi. Kedua dunia ini sekaan menjadi dua sisi mata uang yang berbeda. Dunia ilmu pengetahuan atau kita kenal dengan dunia pendidikan dipandang merupakan tempat dibangunnya nilai-nilai luhur dan budi pekerti, sementara dunia ekonomi dipandang sebaliknya. Dunia ekonomi dipandang sebagai dunia yang penuh kecurangan dan kemunafikan. Dunia ekonomi seolah menjadi dunia tanpa nilai.

Pendidikan seharusnya merupakan wujud nyata dari hasil pembangunan. Pendidikan seharusnya dapat menjadi keunggulan satu bangsa terhadap bangsa lain. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa negara industri maju seperti Singapura, Taiwan dan Cina yang ternyata memiliki kualitas pendidikan yang baik. Oleh karena itu pendidikan dan ekonomi sebenarnya bukanlah sesuatu yang dapat dipisahkan, melainkan saling mendukung satu dengan yang lainnnya.

Dari pembahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa saat ini kita harus mengubah orientasi pendidikan kita dari berbasis akademis menjadi pendidikan yang berbasis kompetensi. Dalam pendidikan yang berbasis kompetensi inilah pembahasan akan technopreneurship dilakukan. Sehingga perguruan tinggi tidak lagi hanya menjadi tempat pencetak manusia yang memiliki keahlian tertentu, akan tetapi juga mencetak manusia yang memilki jiwa-jiwa entrepreuneur yang bervisi sehingga mampu berkontribusi secara aktif kepada bangsa Indonesia.

Selain pihak perguruan tinggi, pembentukan technopreneur juga tidak akan lepas dari peran pemerintah. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan di negeri ini harus mentukan langkah-langkah yang berkesinambungan untuk mendukung pertumbuhan indsutri berbasis teknologi. Pertumbuhan industri tidak akan lepas dari sistem penopangnya seperti infrastruktur atau iklim investasi. Pembentukan industri-industri teknologi tidak boleh dilepas begitu saja oleh pemerintah. Pemerintah harus menjadi pihak yang mengayomi dan melindungi industri-industri baru yang muncul.

Dengan berkembangnya technopreneurship di negara ini, diharapkan dapat menjadi solusi terhadap permasalahan-permasalahan bangsa sehingga kita dapat menjadi bangsa yang mandiri, bangsa yang mampu beridiri di atas kaki sendiri, bangsa yang dapat menyejajarkan diri dengan bangsa lain, yang pada akhirnya dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat sesuai dengan cita-cita luhur bangsa.

Mari bangun Indonesia dengan technopreneurship...!

Jumat, 22 Februari 2008

Stand Informasi PBT pindah tempat

Mulai hari senin tanggal 26 Februari 2008, Stand Informasi PBT ITB pindah tempat ke R. 29 CC barat...
R. 29 CC Barat itu adalah tempat diadakannya perpustakaan kaget...
jadi skalian mampir dan baca-baca buku di situ ya...
:D

Rabu, 20 Februari 2008

Rangkaian Acara Pekan Baca Tulis


Dari mulai hari senin, tanggal 25 Februari 2008 sampai tanggal 29 Februari 2008, panitia PBT akan menggelar PERPUSTAKAAN Kaget di Ruang 29 Campus Center Barat ITB...Sekitar 500 buku kami sediakan pada perpustakaan kaget tersebut Anda dapat baca buku sepuasnya...Dan yang paling penting adalah GRATIS!!! :D

Pada hari Kamis, tanggal 28 Februari 2008, akan diadakan BEDAH BUKU yang menghadirkan ANDREA HIRATA. Bedah Buku akan diadakan di Aula Timur ITB pukul 13.00-16.00.. Dateng ya!! Kapan lagi bisa ketemu dan dapet tanda tangan dari pengarang favorit kamu....

Pada hari Sabtu tanggal 1 Maret 2008, akan diadakan WORKSHOP MENULIS yang menghadirkan pembicara dari Pikiran Rakyat dan Aksara Salman. Workshop ini diadakan pada pukul 09.00-14.30 WIB di Aula Timur ITB. Nah, pendaftarannya dapat dilakukan di Stand PBT, di gerbang Ganesha. Investasi yang dibutuhkan adalah sebesar Rp 10.000,00...Eits, tapi tenang aja...Karena dengan investasi tersebut, Anda sudah mendapatkan fasilitas berupa notebook (bukan laptop yah..:p), sertifikat, makan siang, dan tentu saja ilmu tentang teknik menulis yang 'priceless'...

Setelah workshop menulis (pkl 14.30)akan ada DISKUSI BUKU bersama Donny Dirghantoro (penulis 5cm) dan Farida Susanty (Penulis Muda Berbakat Khatulistiwa Award). Tempatnya tetap di Aula Timur ITB. Kemudian rangkaian acara PBT ini akan ditutup dengan pembacaan puisi, pengumuman pemenang lomba, dan penampilan dari band Sinyo-Sinyo Paradise..

Menarik kan acaranya??!!

Makanya, catet tanggal, waktu, dan tempatnya...Jangan sampe kelewatan satu moment pun ya...